Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Mediasi Deadlock!Polemik Pesangon Mantan Buruh Tyfountex Dibawa ke PHI

14 November 2019, 18: 45: 41 WIB | editor : Perdana

Mediasi antara PT Tyfountex dengan para buruh di kantor disperinaker mengalami deadlock

Mediasi antara PT Tyfountex dengan para buruh di kantor disperinaker mengalami deadlock (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Polemik antara PT Tyfountex dengan mantan pekerja soal pesangon pascapemutusan hubungan kerja (PHK) menemui jalan buntu. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo akhirnya menyarankan agar kasus tersebut dibawa ke Perselisihan Hubungan Industrial (PHI) Jateng di Semarang.

Pertemuan kedua yang berlangsung di kantor disperinaker Kamis (14/11), mengalami deadlock. Pertemuan dihadiri perwakilan dan kuasa hukum PT Tyfountex, serikat pekerja PT Tyfountex, serta lembaga bantuan hukum (LBH) dari pihak pekerja.

Anggota kuasa hukum PT Tyfountex Slamet Rijadi mengatakan, perusahaan telah merugi sejak 10 tahun terakhir. Akibanya kemampuan finansial mundur dan neraca keuangan defisit. Slamet mengaku, hal tersebut merupakan imbas dari perang dagang Amerika-Tiongkok. Sebab, order barang dari luar negeri ikut menurun.

"Akhirnya PT Tyfountex memutuskan untuk melakukan PHK secara bertahap terhadap 1.100 karyawan. Dan, perjanjian 30 bulan angsuran pesangon tersebut sudah kami perhitungkan. Namun, melihat kondisi yang terjadi, perusahaan tidak mampu untuk membayar satu kali gaji selama 30 bulan," kata Slamet.

PT Tyfountex mengaku akan tetap membayarkan pesangon sesuai kesepakatan. Perusahaan telah melakukan berbagai upaya, termasuk meminjam dana dan merumahkan sekitar 1.400 karyawan. Tujuannya agar pembayaran pesangon bisa sesuai kesepakatan awal.

"Namun, keadaan yang terjadi tidak sesuai prediksi. Dengan kemampuan yang ada, kami telah membayar tujuh kali. Dan kami tidak berhasil memenuhi pembayaran pesangon sesuai tanggal yang ditentukan. Yang bisa dicapai baru seperti itu. Dengan pembayaran 50 persen yang akan kami bayarkan pada 22 November," terangnya.

Pernyataan tersebut mendapat penolakan dari mantan pekerja yang hadir. Mereka rata-rata telah bekerja selama 25 tahun lebih dengan total pesangon mencapai Rp 50 juta. Sesuai kesepakatan awal, pembayaran pesangon tiap bulannya rata-rata sebesar Rp 1,8 juta.

Ketua serikat pekerja PT Tyfountex Aris mengaku pihaknya masih kekeh dengan keputusan pertama. Di mana pesangon mantan pekerja dibayar 30 bulan sebesar satu kali gaji. Pihaknya menolak keinginan PT Tyfountex untuk membayar pesangon selama 60 bulan sebesar 50 persen gaji.

"Tuntutan buruh masih sama. Dan kami menuntut sesuai kesepakatan awal dengan 30 bulan pembayaran," terang Aris.

Sementara itu Kepala Disperinaker Sukoharjo Bakhtiyar Zunan mengakui, belum ada titik temu dari pembahasan kedua. Sebab, kedua pihak masih sama-sama ngotot. 

"Kami beri batas waktu agar masalah ini dibawa ke PHI. Kami meminta agar resume-resume selama pertemuan ini dibawa dan paling lambat Senin (18/11) harus sudah terlaporkan," terangnya. (rgl/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia