Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Setelah Erick Tohir Muncul Setiyo, Klaim Siapkan Rp 100 M untuk Persis

15 November 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Setiyo Joko Santoso bersama perwakilan klub internal di Balai Persis Jalan Gajah Mada, tadi malam

Setiyo Joko Santoso bersama perwakilan klub internal di Balai Persis Jalan Gajah Mada, tadi malam (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Bos Persis Solo Vijaya Fitryasa terus digoyang. Setelah muncul nama Erick Thohir di pusaran investor tim kebanggaan wong Solo, kini mencuat sosok Setiyo Joko Santoso yang akan mengambilalih pengelolaan Persis. Bahkan muncul klaim kehadiran sosok terakhir ini mendapat dukungan dari klub-klub internal.

Setiyo merupakan sosok tak asing di lingkaran sepak bola Solo. Pada 2017, dia menjadi owner Persis Gotong Royong (GR), yang kala itu bermain di kompetisi Liga 3 2017. Sayang, tim ini gagal promosi ke Liga 2. Setelah itu, selama dua musim terakhir tim ini vakum dari kompetisi resmi PSSI.

Saat ini Setiyo menjabat sebagai direktur umum keuangan PSSI, di bawah pimpinan Ketua Umum PSSI Komjen Pol M. Iriawan (Iwan Bule) yang baru terpilih saat Kongres Luar Biasa di Jakarta belum lama ini. “Kalau diminta mau tidak mengelola Persis, tentu saya siap. Kalau terpilih, tentu saya siap mengalokasikan Rp 100 miliar khusus untuk training camp,” jelas Setiyo.

Setiyo mengatakan, Senin (18/11) pekan depan,  perwakilan tim internal Persis akan menemui Ketum PSSI Iwan Bule dan wakilnya Iwan Budiyanto. “Ini ikhtiar saya. Mumpung saya sekarang di pusat (PSSI). Saya ingin ikut membangun Persis. Erick Thohir juga siap mengelola dan membesarkan klub ini. Terlebih ini kotanya presiden (Jokowi) tentu harus dikelola dengan baik,” ujarnya.

Kamis malam (14/11), Setiyo hadir secara langsung menemui perwakilan klub internal di Balai Persis Jalan Gajah Mada, Solo. “Pertemuan ini bukan bahas perselisihan saja. Kami ingin menatap Liga 2 juga. Saya berharap komunikasi klub asli Solo dengan manajemen Persis tak terputus,” terangnya.

Bagaimana tanggapan Vijaya Fitriyasa soal ini. Pengusaha tambang ini mengungkapkan, pekan depan CEO PT Persis Solo Saestu Azmy Alqomar akan menemui beberapa stakeholder di Solo. Salah satunya tentu 26 klub internal Persis Solo.

“Harapan kita tentu tidak usah ribut-ribut lagi. Seharusnya kita sudah mulai fokus menatap masa depan, agar Persis bisa kembali menjadi klub yang ditakuti di kompetisi Liga Indonesia,” ujarnya.

Dia paham adanya wacana pergerakan klub internal yang mau mengajukan somasi kepada pihaknya. Khususnya terkait permasalahan pembelian 70 persen saham di PT PSS. Di mana, Vijaya membeli saham tersebut dari PT Syahdana Properti Nusantara milik Sigid Haryo Wibisono yang menguasai saham mayoritas PT PSS selaku pengelola Persis.

“Etika yang kita tahu, mereka itu petinggi Persis GR (Gotong Royong). Ini kok tiba-tiba meributkan soal Persis,” ucapnya.

Vijaya ingin masalah ini cepat selesai agar bisa saling bersinergi. Harapan ke depan, tim internal bisa menyuplai pemain-pemain potensial mereka ke tim Persis senior. 

Sementara itu, Pasoepati belum mau berbicara banyak soal konflik di kubu klub internal dan manajemen Persis. “Saya belum bisa bicara lebih karena belum dapat informasi lengkap,” ujar Presiden DPP Pasoepati Aulia Haryo. 

Seperti diketahui, Persis Solo dikelola Vijaya Fitriyasa. Ini setelah pengusaha tambang tersebut membeli saham 70 persen PT Persis Solo Saestu (PSS) yang menanungi Persis. Sayang, masuknya Vijaya ini memicu polemik beberapa pihak. Pengurus Askot PSSI Surakarta dan klub internal tak mengakui pembelian saham tersebut. Hal ini lantaran saat membeli saham PT PSS, tim-tim internal tak dilibatkan dalam RUPS. Padahal, klub internal mengklaim memiliki 10 persen saham di PT PSS.

Bahkan mereka mulai mengelu-elukan Erick Thohir menjadi owner baru Persis. Erick sendiri sebelumnya pernah ke Solo bertemua wali kota dan meninjau Stadion Manahan. Dia juga menyatakan tertarik untuk berinvestasi di Persis. (nik/bun)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia