Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Warga Bawa Karangan Bunga ke Kejari, Desak Pengusutan Korupsi Kades

15 November 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Warga Desa Mlese, Cawas membawa karangan bunga ke Kejari Klaten, kemarin (14/11)

Warga Desa Mlese, Cawas membawa karangan bunga ke Kejari Klaten, kemarin (14/11) (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Puluhan warga warga Desa Mlese, Kecamatan Cawas menggeruduk kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten, kemarin siang (14/11). Mereka mendesak kejari mengusut kasus dugaan korupsi dana desa oleh kepala desa (kades) Sanyoto. Diduga kades penyelewengkan dana desa tahap II senilai Rp 170 juta dari total Rp 362 juta yang turun.

Massa datang sambil mengusung karangan bunga. Mengucapkan selamat kepada Kepala Kejari (Kajari) Klaten yang baru Edi Utama. Di bawahnya, tertulis pesan untuk mengusut tuntas dugaan korupsi dana Desa Mlese. 

Sayangnya, massa gagal bersua kajari. Namun ditemui Kepala Seksi (Kasi) Intel Kejari Klaten Romula Hasonangan beserta jajaran lainnya. 

“Jadi ini sifatnya bukan pengaduan, tetapi koordinasi dengan kejari terlebih dahulu. Selanjutnya kami akan bekerja sama dengan kejaksaan untuk pengumpulan data-data yang lebih lengkap. Terkait dugaan penyelewengan dana desa tahun ini,” jelas Tokoh masyarakat Desa Mlese Joko Triyono.

Menurut Joko, warga sudah melakukan konfirmasi secara langsung kepada kades bersangkutan. Dari versinya, kades mengaku dana desa Rp 170 juta itu untuk kepentingan pribadi. “Tidak tahu untuk apa? Mungkin untuk biaya kampanye pemilihan kepada desa (pilkades) kemarin. Memang Sanyoto terpilih lagi jadi kades,” ujarnya.

Joko menambahkan, pengakuan kades itu tertuang dalam surat pernyataan. Berjanji menyelesaikan seluruh program desa hingga 27 November. Sejatinya, dana desa tahap II itu digunakan untuk proyek pengaspalan jalan di lima titik. Tetapi kenyataannya tiga titik belum tersentuh pengaspalan.

“Tiga titik belum digarap yang senilai Rp 50 juta, Rp 150 juta, dan Rp 25 juta. Ada jalan poros desa yang sama sekali belum diaspal. Baru material saja di masing masing titik itu,” tandas Joko.

Tokoh masyarakat lainnya, Jarot mengaku permasalahan bukan pada pengembalian dana desa itu. Melainkan terbengkalainya proyek. Berdampak terlambatnya pembuatan laporan pertanggungjawaban (LPJ). Dikhawatirkan dana desa tahap III terlambat cair bahkan tidak turun.

“Waktunya mepet. Yang rugi warga Desa Mlese sendiri. Bisa saja dana desa tahap III tahun ini hangus akibat keteledoran kades. Ini harus dipertanggungjawabkan,” ketusnya.

Sementara itu, Romula Hasonangan mengaku kedatangan massa belum masuk tahap aduan. Sebatas memberikan informasi. “Kalau pengaduan ya harus dilengkapi bukti-bukti yang memperkuat,” terangnya.

Romula menegaskan, surat pernyataan pengakuan kades ternyata tidak ada. Surat tersebut sebatas janji kades menyelesaikan program-program tahun ini. “Jadi jangan sampai menimbulkan fitnah. Tadi (kemarin) saya minta melengkapi bukti-bukti yang mengarah penyelewengan itu,” tandasnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia