Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Febrilia Widya Nur Azizah, Atlet Multitalenta asal Kota Susu

Top Skor Turnamen Futsal, Juara Pencak Silat

16 November 2019, 18: 28: 20 WIB | editor : Perdana

BERPRESTASI: Febrilia bertekad bisa menembus atlet nasional dengan bekerja keras.

BERPRESTASI: Febrilia bertekad bisa menembus atlet nasional dengan bekerja keras. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Share this      

Dua kali alami cidera tak membuat Febrilia Widya Nur Azizah kapok menekuni dunia atletik. Semua dilalui demi menjadi atlet nasional. Bagaimana kisahnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo, Radar Solo

SEPINTAS, perawakan Febrilia Widya Nur Azizah sama seperti siswa sekolah menengah pertama (SMP) lainnya. Siswi kelas VII SMP di Solo ini juga hobi bermain dan bercanda dengan teman sebayanya. Hanya sikap tomboi yang membedakan gadis 13 tahun ini dengan teman lainnya. “Saya tomboy sejak kecil,” akunya, Senin (11/11). 

Widya, begitu dia akrab disapa, mengaku berkat sikap tomboinya banyak mendulang prestasi di bidang pencak silat. Seperti kisah pertamanya bergabung dengan Tapak Suci Putra Muhammadiyah saat masih duduk di kelas 3 sekolah dasar di Boyolali. Kala itu dia hanya diajak guru olahraganya untuk mengikuti ekstra kurikuler Tapak Suci. Setahun kemudian dia ditunjuk untuk mewakili sekolah untuk bertanding di tingkat kabupaten. “Dipilih karena tomboi itu,” tegasnya.

Tak hanya bermodal tomboi, penyuka nasi bandeng ini berhasil mendapatkan juara 1 pada debutnya tersebut. Prestasi perdananya membuat sang guru mengikutkannya ke berbagai kejuaraan. Secara berturut-turut dia merebut emas dalam UNS Open di Solo, Kejuaraan Kabupaten di Boyolali, Festival Pencak Silat di Jogjakarta hingga dia berhenti setahun untuk fokus ujian nasional SD. Prestasinya berlanjut ketika SMP. Dua kali Pekan Olahraga Daerah (Popda) Kota Surakarta dua tahun berturut-turut dia menangi.

“Saya latihan dua kali sepekan, kalau jelang pertandingan bisa empat kali,” kata Widya membocorkan resep kemenangannya. “Banyak doa, main tenang, nggak usah takut, yang penting tanding. Masalah juara itu urusan keri,” tambahnya.

Meski memiliki deretan prestasi, anak bungsu dari tiga bersaudara ini  juga pernah menderita kekalahan. Bahkan dia pernah dirundung cidera. Salah urat pada engkel dia alami saat latihan, serta cidera tulang leher pernah dialami saat pertandingan. Namun, dua cidera yang dialaminya tak membuat semangat penyuka green tea ini surut. Dia tetap berlatih dan belajar hingga menjadi atlet professional. “Itu semua risiko jadi atlet, harus dilalui,” tegasnya.

Di balik ketegarannya, Widya memiliki sisi lain yang unik. Salah satunya adalah hobinya bermain futsal. Olahraga yang kerap dilakukan laki-laki ini kerap dijalani bersama dua kaka lelakinya. Dari situ, dia pun berani menjajal latih tanding bersama tim futsal laki-laki maupun tim wanita. Terakhir dia mengikuti turnamen futsal wanita antar kelas di sekolahnya. Hasilnya, kelasnya mendapat juara pertama. “Saya jadi top skor,” ucapnya bangga.

Selain hobi futsal, ada satu lagi kebiasaan nyeleneh gadis Boyolali ini, yakni berantem. Meski kini sudah tak dilakukan, namun dia kerap terlibat perkelahian dengan teman saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Widya menceritakan saat SD pernah baku pukul dengan temannya. Tak ada yang menang dan kalah. Keduanya menangis karena kesakitan.

Hobi nakalnya ini lambat laun berhenti juga setelah dia mendalami ilmu tapak suci.

“Di Tapak Suci ada pelajaran agamanya. Jadi sekarang lebih ke menahan diri,” katanya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia