Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Papan Kawruh Tirta Bukan untuk Wisata

16 November 2019, 18: 43: 02 WIB | editor : Perdana

TERBATAS: Peresmian Papan Kawruh Tirta di depan Terminal Tirtonadi kemarin (15/11).

TERBATAS: Peresmian Papan Kawruh Tirta di depan Terminal Tirtonadi kemarin (15/11). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pemkot menegaskan fungsi utama Papan Kawruh Tirta di Bendungan Tirtonadi, Kecamatan Banjarsari adalah untuk sarana edukasi tentang air. Masyarakat yang tidak memiliki kepentingan diminta tidak masuk di bangunan di depan Terminal Tirtonadi tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Surakarta Endah Sitaresmi Suryandari menegaskan, Papan Kawruh Tirta bukan dikhususkan untuk kunjungan wisata. Masyarakat yang hendak berkunjung harus memberitahu petugas terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya. Pemkot akan menyiapkan petugas keamanan, administrasi, dan kebersihan untuk menjaga dan melayani masyarakat di lokasi.

“Tempat ini sifatnya terbuka tetapi tidak untuk wisata. Sesuai fungsi awal, Papan Kawruh Tirta untuk kegiatan edukasi. Kita gunakan untuk mewadahi keingintahuan masyarakat soal air, sungai dan sumber daya air lainnya,” kata Sita usai acara peresmian, Jumat (15/11).

Pemkot, lanjut Sita, telah menjalin kerja sama dengan komunitas sungai, sekolah sungai, SAR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta universitas. Berbagai kelompok masyarakat itu bisa memberi atau berbagi segala informasi tentang air di Kota Bengawan.

Mereka juga dapat mengadakan workshop, diskusi, atau pameran di Papan Kawruh Tirta. Smeentara masyarakat bebas mengambil manfaat dari Papan Kawruh Tirta sebagai peserta. Bisa juga pelajar melakukan outing class di sana.

“Kegiatan-kegiatan seperti itu yang dibolehkan. Pembatasan ini sebagai upaya menjaga aset alat pengendali banjir di Bendungan Tirtonadi. Kalau wisata bisa di luar, di bantaran,” terangnya. 

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo berharap, Papan Kawruh Tirta menjadi pusat edukasi air terlengkap. Sebab, sejarah air dan sungai di Kota Bengawan sangatlah banyak dan tidak semua mengetahui.

“Banyak hal yang bisa dipelajari oleh masyarakat. Yang terpenting masyarakat bisa menjaga dan merawatnya,” kata Rudy. (irw/wa)  

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia