Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

DBL Camp 2019, Smarga Tinggal Berharap pada Coach Wempi

16 November 2019, 19: 12: 54 WIB | editor : Perdana

OPTIMISTIS: Pelatih SMA Warga Surakarta Wempi Wiyanto (berdiri pojok kiri) usai mengikuti tes dari WBA di acara DBL Camp 2019 di Surabaya (15/11)

OPTIMISTIS: Pelatih SMA Warga Surakarta Wempi Wiyanto (berdiri pojok kiri) usai mengikuti tes dari WBA di acara DBL Camp 2019 di Surabaya (15/11) (DBL INDONESIA FOR RADAR SOLO)

Share this      

SURABAYA – Harapan besar pecinta bola basket di Kota Solo melihat pemain asal kota ini masuk di skuad DBL All-Star 2019, ternyata gagal tercapai. Empat pemain yang semuanya dari SMA Warga Surakarta (Smarga) gagal melangkah sampai di 12 besar. Mimpi berguru ke Amerika, ternyata gagal tercapai.

Sebelumnya Angela Fortuna harus puas hanya ada di posisi 100 besar, dalam acara DBL Camp. Sementara itu tiga bintang Smarga lainnya, ternyata harus puas terhenti langkahnya di posisi 50 besar.

Sebastian Soenarto, Justin Jaya Wiyanto dan Nur Rosyidah Ningrum gagal masuk sebagai top 24 campers Honda DBL Camp 2019. Hasil ini tentu membuat tak ada yang bisa mengikuti jejak Samuel Devin Susanto asal SMA Regina Pacis Surakarta. Yang ditahun 2015 silam, sukses lolos masuk di skuad DBL All-Star.

Saat ini harapan publik, tinggal tertuju pada coach Wempi Wiyanto. Pelatih Smarga tersebut masih bertahan dan membuka pelaung untuk jadi pelatih DBL All-Star 2019. Saat ini dia masuk sebagai Best 12-Coaches.

Kemarin para pelatih mengikuti serangkaian materi yang diberikan di function room Surabaya Convention Center.  Mereka mendapatkan ujian dari World Basketball Academy (WBA). Tes yang diujikan seputar filosofi dari seorang pelatih. Hasil ini akan digunakan untuk memilih Best 12 coaches.

Salah satu pelatih dari Kupang, Nusa Tenggara Timur Alessandro Junior Johannis merasa beruntung bisa menjadi peserta Honda DBL Camp. Sebab, banyak ilmu yang diserap olehnya. “Sesuai yang telah diberikan. Pada saat tes, pertanyaannya seputar filosofi seorang pelatih. Karena seorang pelatih harus punya filosofi,” cetus pelatih SMAN 4 Kupang itu.

Saat ditanya mengenai kans untuk menembus skuad all-stars dirinya masih optimistis. “Semua pasti punya optimisme yang tinggi termasuk saya. Tapi, yang paling terpenting adalah pengalaman dan ilmu yang didapat di sini,”cetusnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia