Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Kuasai Teknologi, Ciptakan Usaha Baru

16 November 2019, 21: 22: 15 WIB | editor : Perdana

LUGAS: Pemimpin Redaksi Jawa Pos Abdul Rokhim beri paparan di hadapan peserta DSC X di De Tjolomadoe, Sabtu (16/11).

LUGAS: Pemimpin Redaksi Jawa Pos Abdul Rokhim beri paparan di hadapan peserta DSC X di De Tjolomadoe, Sabtu (16/11). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Anak muda usia produktif menjadi pasar potensial untuk mengembangkan usaha. Potensi itu didukung dengan peran sosial media dalam meningkatkan promosi usaha.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Jawa Tengah Ema Rachmawati di hadapan peserta Diplomat Success Chalange (DSC) X di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Sabtu (16/11).

“Kalau kita bicara tentang bonus demografi, maka anak yang lahir pada tahun 2000, tahun 2045 mereka diharapkan mampu menjadi pemimpin atau memimpin negara ini. Jadi saat ini, mereka usianya masih remaja. Nah jumlahnya cukup besar, yaitu 24 persen dari seluruh penduduk Indonesia,” jelasnya.

Sebab itu, sejak dini, mereka harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan peluang usaha baru. “Jika mereka tidak dapat menguasai ilmu dan teknologi, mereka akan ketinggalan. Tidak bisa menggapai peluang usaha baru tersebut. Misalnya saja, sekarang orang jualan tidak harus mempunyai warung, mereka menggunakan Android sudah bisa berjualan,” terang dia.

Ditambahkan Ema, di Jateng terdapat sekitar 4,1 juta usaha mikro kecil menengah (UMKM). Banyak pelaku UMKM belum secara optimal menguasai teknologi. Mereka memang memiliki Android, tetapi hanya digunakan untuk mengakses media sosial. Tidak secara aktif digunakan berdagang.

Pembicara lainnya, yakni pemimpin redaksi Jawa Pos Abdul Rokhim menerangkan, perubahan demografi merupakan salah satu kata kunci dalam menghadapi kehidupan yang serbadigital. Jumlah anak muda di dunia, khususnya di Indonesia, jauh dibandingkan populasi orang tua dan anak-anak. Mereka memiliki sifat ingin tahu, serbainstan, serta ingin hidup mudah. "Maka saat ini mereka menjadi bidikan wirausaha," ujarnya.

Dengan sifat yang dimiliki anak muda tersebut, imbuh Rokhim, menjadikan pelaku usaha berlomba-lomba membuat produk yang digandrungi anak muda. Sebut saja start up -start up yang dewasa ini muncul di Indonesia. Mulai dari start up layanan transportasi, jasa pengiriman hingga toko serbaada. 

"Sekarang bukan era digital. Tapi kita masuk di dunia yang terintegrasi antara fisik dengan digital. Tantangan berwirausaha saat ini adalah menghadirkan connection dan understanding," terangnya.

Selain itu, tantangan anak muda adalah membendung membeludaknya informasi tanpa ada penyaringan ketat. Rokhim menyebutnya sebagai tsunami informasi.

"Jumlah informasi yang beredar di dunia sekarang 34 gigabyte sehari. Bagaimana di sela-sela tsunami itu kita dapat mengabarkan kepada masyarakat se-Jawa Tengah tentang produk kita? Itu yang harus dipikirkan," beber dia. (irw/mg8/wa

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia