Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sisi Lain Ikhtiar Spiritual demi Berebut Kursi CPNS

18 November 2019, 14: 54: 37 WIB | editor : Perdana

Sisi Lain Ikhtiar Spiritual demi Berebut Kursi CPNS

Tahun ini, pemerintah membuka 152.286 formasi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Lowongan ini selalu menjadi buruan masyarakat. Tak heran persaingan pun sangat ketat. Demi bisa lolos berbagai cara pun dilakukan. Ada yang mempersiapkan diri dengan giat mempelajari modul-modul soal tes hingga menempuh jalur spiritual. Jawa Pos Radar Solo menelusuri 

PEMUDA asal Langenharjo, Grogol, Sukoharjo ini sudah berkali-kali gagal dalam seleksi CPNS. Pengalaman buruk ini dia alami 2017 dan 2018. Nah, tahun ini kali ketiga dia akan menjajal mengadu peruntungan menjadi abdi negara.

 “Saya selalu gagal saat tes seleksi kompetensi dasar (SKD). Soalnya sulit, waktunya ak cukup,” ujar pria yang minta namanya dirahasiakan ini saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kawasan Solo Baru, Sukoharjo.

Pria yang kini bekerja parohwaktu ini mengakui tidak kapok mengikuti seleksi lagi demi mengejar status CPNS. Tentu dengan harapan kelak hidupnya lebih sejahtera dengan gaji dan berbagai tunjangan yang didapat seorang pegawai negeri.

 “Keluarga saya banyak yang PNS. Malah adik saya tahun lalu langsung diterima, padahal baru sekali ikut tes. Sekarang dia tugas di Palangkaraya (Kalimantan Tengah). Saya yang berkali-kali ikut tes belum diterima, nasibnya kurang baik mungkin,” kelakar dia.

Pengalaman gagal ini sempat membuat dia pesimistis. Nah, persiapan kali ini dia tidak hanya mempelajari soal-soal latihan seleksi CPNS. Namun juga rutin melakukan tirakat. Ceritanya dia diajak tetangganya mendatangi sejumlah lokasi yang dianggap keramat. Tujuannya mencari berkah agar upaya mengikuti tes CPNS lancar.

 “Beberapa bulan ini saya rutin ziarah ke makam-makam leluhur di beberapa lokasi. Mulai dari yang dekat-dekat sampai ke Pengging dan Selo (Boyolali),” jelas dia.

Selain ziarah ke sejumlah makam keramat, dia juga rutin berendam semalaman di sejumlah pemandian yang dianggap memiliki tuah. Lokasi-lokasi itu dia datangi bergantian tiap Selasa Kliwon dan Jumat Pahing. 

“Hitung-hitung nyepi, instropeksi diri sambil berdoa sama kepada Tuhan. Kadang di sana (lokasi keramat) saya juga bertemu beberapa orang yang mau daftar CPNS.  Pokoknya tahun ini harus lolos. Yakin! Lha wong semuanya sudah dicoba masak gagal lagi,” ujarnya optimistis.

Lain lagi dengan Andro (bukan nama sebenarnya). Dia justru mengaku tidak pernah kesulitan dalam seleksi CPNS. Benar saja, sekali menjajal di 2018 lalu, dia langsung lolos dan kini ditempatkan di salah satu kota di Pulau Sumatera. “Saya itu sebenarnya iseng-iseng saja kemarin. Jadi bukannya pengin banget. Kebetulan juga baru lulus kuliah. Daripada jadi omongan tetangga karena menganggur saya coba, malah langsung diterima,” ujarnya.

Pria asal Kota Bengawan ini mengaku beruntung dalam seleksi CPNS tahun lalu. Dia yakin upaya kerasnya dalam mulai latihan soal dalam beberapa pekan terakhir menjelang ujian tertulis menentukan keberhasilannya kala itu. Meski dia juga mengaku mengantongi jimat dari kakeknya ketika mengerjakan tes agar beruntung.

 “Kebetulan waktu seleksi itu saya sama sekali tidak kesulitan dalam mengerjakan soal. Tapi saya tidak tahu lho, itu karena jimatnya atau karena saya yang sudah belajar juga,” kelakar dia.

Andro awalnya tak pernah menyiapkan jimat tersebut. Dia baru tahu keberadaan jimat itu sesaat sebelum berangkat menuju lokasi tes. Kala itu, orang tuanya meminta dia membawa jimat itu. Alasannya agar lancar saat mengerjakan soal. “Jimat ini bentuknya kalung dan seperti ada kantongnya warna cokelat. Entah apa isi di dalam kantongnya itu. Pesan orang tua agar didibawa. Katanya kalau tidak mau pakai (mengalungkan) ya dikantongi saja,” ucapnya.

Hingga hari ini, kemudahan dalam menempuh berbagai tahapan seleksi CPNS tahun lalu itu masih menjadi misteri dalam kehidupannya. Dia tidak bisa memastikan apa faktor utama yang bisa membuatnya lolos seleksi. Apakah karena upaya dan latihan soal yang rutin atau karena jimat peninggalan sang kakek yang memiliki tuah. “Ya biar jadi rahasia saja. Biar Tuhan yang tahu. Tapi kalau ditanya mana yang lebih menentukan, saya pikir digabungkan saja. Jadi harus ada usaha (belajar dan latihan soal, Red). Jika kurang yakin ya mungkin bisa bawa benda keberuntungan,” tutur dia. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia