Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Boyolali

Letusan Merapi Kian Sering, BPBD Siaga, Warga Tetap Beraktivitas

18 November 2019, 15: 04: 46 WIB | editor : Perdana

WASPADA: Gunung Merapi saat meletus terlihat dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Minggu (17/11).

WASPADA: Gunung Merapi saat meletus terlihat dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Minggu (17/11).

Share this      

KLATEN – Gunung Merapi kembali meletus Minggu (17/11) pukul 10.46. Berdasarkan data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, letusan tercatat dengan amplitude maksimal 70 mm dengan durasi 155 detik. Sedangkan teramati kolom letusan setinggi 1.000 meter dengan angin bertiup ke arah barat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten pun langsung koordinasi dengan para relawan di desa-desa yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III. Di wilayah Klaten sampai saat ini tidak terkena dampak hujan abu.

“Hingga saat ini wilayah Klaten masih aman. Warga tetap aktivitas seperti biasanya,” jelas Kepala BPBD Klaten, Sip Anwar saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di Kantor BPBD Klaten, Minggu (17/11).

Anwar mengatakan, letusan yang terjadi pada Minggu (17/11) siang itu lebih kecil dari sebelumnya. Terlebih, letusan dari Gunung Merapi sudah menjadi hal biasa bagi warga di sekitarnya. Karena itu tidak ada kekhawatiran berlebihan dari masyarakat sehingga tetap beraktivitas seperti biasanya.

Sekalipun nanti ada hujan abu di wilayah Klaten, BPBD telah menyiapkan logistik berupa masker. Saat ini untuk persediaan masker di Kantor BPBD Klaten mencapai 25 ribu masker. Bisa digunakan bagi warga yang ada di wilayah KRB III, yakni Desa Balerante, Sidorejo dan Tegalmulyo.

“Selain hujan abu, yang perlu waspadai para penambang adalah lahar dingin. Apalagi beberapa hari ini mengalami hujan. Makanya kami minta saat menambang tetap waspada,” jelasnya.

Pihaknya juga telah menempatkan para relawan untuk memantau ketika terjadi letusan Merapi. Di sisi lain, BPBD giat melakukan pembinaan terkait kesiapsiagaan desa tangguh bencana di tiga desa KRB III.

Salah satu warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Sukiman mengatakan, wilayahnya tidak ada hujan abu. Sekalipun Desa Sidorejo masuk dalam KRB III. “Tidak ada hujan abu. Apalagi saat Gunung Merapi meletus tidak terdengar suara gemuruh sama sekali. Saat letusan, ada angin kencang sehingga sampai tak terdengar gemuruhnya,” jelasnya

Petugas Pos Pantau Gunung Merapi Jrakah Ahmad Sopari menyebut, akibat letusan Merapi, terjadi hujan abu tipis di wilayah barat Merapi. Mengingat tiupan angin cukup kencang, diperkirakan, hujan abu mencapai radius 15 km.

“Saat ini, status Gunung Merapi masih dalam tahap waspada. Masyarakat kami imbau tetap tenang namun tetap waspada,” katanya. (ren/wid/bun)

Aktivitas Erupsi Merapi

14 Oktober 2019

Letusan setinggi 3.000 meter dari puncak. 

Terjadi hujan abu di kawasan Magelang dan Boyolali

9 November 2019

Letusan setinggi 1.500 meter dari puncak

Terjadi hujan abu di wilayah Magelang dan Boyolali 

17 November 2019

Letusan setinggi 1.000 meter dari puncak

Terjadi hujan abu di wilayah Magelang dan Sleman

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia