Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Murwa Chandika Libatkan Duta Seni

18 November 2019, 15: 16: 38 WIB | editor : Perdana

NGURI-URI BUDAYA: Umat Hindu mengikuti ritual Murwa Candhika di Dusun Watu Genuk, Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Sabtu siang (16/11).

NGURI-URI BUDAYA: Umat Hindu mengikuti ritual Murwa Candhika di Dusun Watu Genuk, Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Sabtu siang (16/11). (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Umat Hindu di Kabupaten Boyolali menggelar Murwa Candhika di Dusun Watu Genuk, Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Sabtu siang (16/11). Selain bersih-bersih cagar budaya Situs Watu Genuk, juga untuk melestarikan budaya turun-temurun dari nenek moyang.

Ritual dipimpin Pinandita Hindu Sutoyo. Diawali pengambilan air dari punden di pintu masuk kawasan wisata air Kragilan. Punden ini dipercaya sebagai salah satu sumber mata air tertua. Air suci lalu dimasukkan ke dalam sembilan kendi lalu diarak menuju Situs Watu Genuk. Diiringi tari rakyat oleh alumni Duta Seni dan Misi Kebudayaan Pelajar Boyolali.

Tiba di situs, air diguyurkan ke lingga dan yoni dengan cara berjalan memutar. Sebelumnya lingga dan yoni telah diberi dupa dan berbagai sesaji berupa hasil bumi.

“Pembersihan lingga dan yoni tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang tampak. Tetapi juga yang tidak tampak,” terang tokoh agama Hindu di Kragilan Sumastopo yang juga anggota Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Boyolali itu.

Tradisi membersihkan lingga dan yoni serta sembilan kendi ini melambangkan sembilan sumber semesta. Merujuk delapan mata angin dan satu porosnya berada di tengah. Setiap mata angin dan porosnya punya dewa penguasa yang disebut Nawa Dewata. “Konsep Nawa Dewata ini selaras dengan kepercayaan Jawa kuno. Sebelum ajaran Hindu dan Budha masuk,” terangnya.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali Budi Prasetyaningsih menambahkan, pemkab sudah melakukan kajian terhadap situs Watu Genuk. Bahkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng telah memberi nomor inventaris di setiap batu maupun fragmen di situs itu. “Dukungan masyarakat penting dalam kegiatan pelestarian cagar budaya,” bebernya. (wid/fer) 

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia