Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Bengawan Solo Tercemar Akibat Pipa Siluman

18 November 2019, 21: 36: 44 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Gubernur Ganjar Pranowo di acara Jambore Penthahelik Gotong Royong Sekolah Sungai Klaten, Senin (18/11).

Gubernur Ganjar Pranowo di acara Jambore Penthahelik Gotong Royong Sekolah Sungai Klaten, Senin (18/11).

Share this      

KLATEN - Pencemaran Sungai Bengawan Solo terindikasi berasal dari limbah pabrik yang mengalir dari pipa-pipa siluman. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memperingatkan perusahaan di sepanjang sungai untuk menertibkan saluran pembuangan limbahnya.

“Kami minta kepada para perusahaan, janganlah membuat pipa-pipa siluman. Jangan membuang limbah ke sungai. Mari kita buat IPAL komunal, syukur-syukur bisa membuat IPAL sendiri, kami akan bantu,” kata Ganjar di acara Jambore Penthahelik Gotong Royong Sekolah Sungai Klaten dan Jawa Tengah serta Peresmian Rumah Komunitas Rowo Jombor, Klaten, Senin (18/11).

Pemprov siap berdialog dengan para pengusaha terkait instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal. Ganjar siap membantu agar industri tidak mati, sungai tidak tercemar, dan anak cucu mendapatkan air bersih.

“Mudah-mudahan para pengusaha tobat dan sadar bahwa anak cucu kita butuh air, butuh makan, butuh minum. Ikannya berenang di air bersih dan tidak ingin mati karena memakan limbah dari pabrik,” ungkapnya.

Mengingat pencemaran di Bengawan Solo sudah cukup tinggi, Pemprov Jateng telah berkoordinasi dengan Pemprov Jatim. Kedua provinsi membentuk tim yang diterjunkan ke lapangan untuk mengidentifikasi kadar pencemaran dan faktor penyebabnya. Tim juga mendatangi langsung pabrik-pabrik yang memasang pipa limbah ilegal untuk dilakukan peringatan.

“Tampaknya dari peringatan yang kami lakukan lumayan ditaati sehingga mungkin sekarang tidak membuang lagi. Tetapi kita tidak butuh sekarang, butuh selamanya. Kami tidak akan mematikan industri tentu saja. Tapi kita harus musti memahami, saling tahu, dan taat pada peraturan,” kata Ganjar.

Terkait penindakan, pemprov sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan kejaksaan. Meski demikian, Ganjar lebih dahulu mengutamakan proses dialog sebelum mengambil langkah tegas sesuai peraturan.

“Kami ajak mereka membuat IPAL komunal. Tapi saya minta kita dekati dulu, kita undang dulu. Kalau tidak mau kita minta kepolisian dan kejaksaan bahwa prinsip pencemar membayar kita eksekusi karena sudah mengerikan, laporan sudah banyak sekali,” ujarnya.

(rs/ren/bay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia