Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Dialog Publik IAIN, Tangkal Bibit Radikalisme di Kampus

18 November 2019, 23: 14: 40 WIB | editor : Perdana

Dialog publik terkait radikalisme di IAIN Surakarta, kemarin (18/11)

Dialog publik terkait radikalisme di IAIN Surakarta, kemarin (18/11) (SEPTINA FADYA/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Bibit radikalisme tumbuh subur di institusi pencetak calon intelektual, yakni kampus. Terutama perguruan tinggi negeri (PTN). Sebab, perguruan tinggi yang bukan keagamaan mayoritas mahasiswanya berasal dari siswa umum atau bukan santri. 

Hal ini diutarakan dosen Hukum Tata Negara (HTN) Universitas Islam Negeri (UIN) Jogjakarta yang juga Sekretaris LPBH PWNU Jogjakarta Gugun El Guyanie. Dia menjadi narasumber dalam dialog publik bertema Mahasiswa dan Negara Pancasila Melawan Radikalisme dan Paham Khilafah di Civitas Akademika di aula Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, kemarin (18/11).

“Itu lebih mudah terpapar. Sebaliknya, anak-anak kuliah di perguruan tinggi keagamaan punya background santri. Mereka memiliki dialektika berbeda dalam menerima doktrin-doktrin radikalisme,” ungkap Gugun.

Gugun menyebut perguruan tinggi keagamaan satu-satunya harapan penyebar Islam moderat. Dia menilai kampus besar jadi lahan subur untuk ditanami bibit radikalisme. Ini jadi early warning system bagi pemerintah dan masyarakat untuk selalu mengawasi, mengelola, dan memberikan treatment khusus kepada perguruan tinggi terkait penyebaran bibit radikalisme.

“Mereka kuliah empat sampai lima tahun di kampus. Setelah ini kerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di kementerian, lembaga negara, atau di BUMN. Akhirnya menyebarkan bibit radikalisme ini ke karyawan lain di tempatnya bekerja. Bahkan kalau mereka kuliah kedinasan seperti IPDN, STAN, juga sudah terpapar lebih serius,” imbuhnya.

Pengamat terorisme Akademisi Alumnus Afganistan Amir Mahmud membenarkan hal tersebut. Menurut dia, radikalisme merasuk ke berbagai profesi. Bahkan, delapan lembaga institusi PTN terpapar radikalisme. Dia menyebut ada beberapa tanda radikalisme.

“Mereka menganggap umat Islam di luar kelompoknya adalah fasik. Kemudian tidak mau mendengarkan pengajian lain, walaupun ilmu belum seberapa. Juga menolak lagu kebangsaan dan hormat bendera. Ikatan ideologi radikal antarsesama kelompoknya lebih kuat dari keluarga dan kerabat, serta lingkungan dekatnya. Mereka juga membenci pemerintah karena disebut thogut," urainya.

Radikalisme menyerang generasi muda lewat berbagai jalur, termasuk teknologi. Bibit radikalisme disebar ke mahasiswa dengan mem-brainwash, bahwa pemerintah thogut dan demokrasi haram.

“Fundamentalisme agama adalah soal believe. Kepercayaan yang dianut untuk dirinya sendiri. Bukan mempengaruhi yang lain. Tapi mereka memaksakan kepercayaan itu ke orang lain. Contohnya bom bunuh diri dianggap perjuangan,” bebernya. (aya/fer) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia