Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Warga Colomadu Gugat RS Mata Solo, Ingin Kacamata Malah Jadi Buta

19 November 2019, 17: 53: 11 WIB | editor : Perdana

Kastur (memakai kaca mata hitam) didampingi kuasa hukum dan keluarganya saat di Pengadilan Negeri Surakarta

Kastur (memakai kaca mata hitam) didampingi kuasa hukum dan keluarganya saat di Pengadilan Negeri Surakarta (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Niat hati ingin memperoleh kacamata, kedua mata Kastur, 65, warga RT 05 RW 02, Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar malah menjadi buta. Dia diduga menjadi korban malapraktik ketika ditangani salah satu dokter dari RS Mata Solo.

Ditemui dì Pengadilan Negeri (PN) Surakarta, Kastur terlihat duduk di kursi roda ditemani istri dan putri bungsunya. Dia menggunakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang buta sejak tiga tahun silam. 

Pria yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang soto Lamongan di depan The Tjolomadoe ini menceritakan, awal mulanya dia merasa kesulitan melihat. Atas dasar itu, dia lantas ke RS, kemudian ditangani oleh RH, salah seorang dokter spesialis mata di RS Mata Solo.

"Sebenarnya saya cuma mau minta kacamata saja, biar penglihatan saya jelas. Tapi sama dokternya dikasih tahu, kalau mata kanan saya katarak parah, harus dioperasi dulu. Ya saya jalani saja, wong yang ngomong dokter," kata Kastur di sela-sela menunggu jadwal sidang perdata dengan tergugat pihak RS, Selasa (19/11).

Kemudian, Oktober 2016 Kastur menjalani operasi guna menghilangkan katarak. Setelah menjalani operasi, sepekan selanjutnya dia kembali datang ke RS Mata Solo untuk melepas perban. 

"Setelah itu, kata dokter kataraknya sudah hilang. Kemudian saya tanyakan soal kacamata, katanya suruh sabar. Katanya kondisinya belum stabil, harus di observasi dulu. Disuruh kontrol setiap minggu dulu. Sampai kira-kira sampai Desember," ucapnya.

Januari 2017, Kastur kembali meminta untuk dibuatlan resep kacamata, namun RH kembali memvonis mata kirinya juga katarak dan dia menjalani proses operasi katarak. "Namun, yang kedua ini operasinya sakit sekali, beda sama yang pertama yang tidak terasa apa-apa," tuturnya.

Beberapa pekan pasca-operasi, matanya jernih. Namun, pekan-pekan selanjutnya penglihatannya semakin meredup. Puncaknya, empat bulan pascakejadian matanya malah buta permanen. 

Kastur lantas mendatangi RS Mata Solo, namun dia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Karyadi, Semarang. Betapa kagetnya dia ketika mendapat keterangan kalau korneanya rusak parah. "Ibarat kaca mobil, sudah penuh goresan dan dalam," ucapnya.

Kastur mendapat arahan untuk melakukan operasi penggantian kornea di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Namun, biaya operasi satu kornea Rp 30 juta dan tak ditanggung Badan Penyeleggara Jaminan Sosial (BPJS) Ķesehatan.

Hal tersebut lantas diutarakan kepada direksi RS Mata Solo, namun tidak direspons. Akhirnya dia melaporkan kejadian ini. Mengetahui instasinya digugat, RS Mata Solo lantas memanggil Kastur dan menawarkan uang Rp 75 juta, asal gugatan tersebut dicabut.

Kastur pun menerima tawaran tersebut. Namun, uang tersebut tidak sempat untuk berobat karena habis untuk membayar utang. "Selama buta, saya tidak bekerja, saya tulang punggung. Untuk hidup terpaksa utang sana sini. Karena malu ditagih utang," tutur Kastur.

Sementara itu, kuasa hukum Kastur Bekti Pribadi mengatakan, gugatan perdata yang dilayangkan ini perihal ganti rugi material. Yaitu tidak adanya pemasukan selama buta permanen. "Ketika berjualan, untung bersih Pak Kastur Rp 600 ribu per hari. Kemudian kita hitung, jadi kerugian materialnya Rp 570 juta. Sementara kerugian imaterial kita menggugat Rp 10 miliar," ucap Bekti.

Dalam kasus perdata ini, lanjut Bekti, pihaknya menggugat RH sebagai tergugat pertama dan dokter Amania Fairuzia sebagai direktur utama RS Mata Solo. Selain itu, kasus ini juga dilaporkan ke Polresta Surakarta tiga bulan silam. 

Sementara itu, kuasa hukum RS Mata Solo Rikawati membenarkan jika pihaknya telah menerima gugatan perdata dari Kastur. "Ya kita sebagai warga negara yang baik karena sudah digugat, ya kita ikuti proses persidangan. Biarkan nanti kita buktikan semua di persidangan," tuturnya.

Terpisah, Kasatreskrim Polresta Surakarta AKP Arwansah mengatakan, belum mengetahui adanya laporan dugaan malapraktik ke kepolisian. (atn/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia