Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Densus 88 Temukan Catatan Merakit Bom & CD Latihan Perang di Grogol

20 November 2019, 06: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Rumah di Cemani, Grogol yang digeledah Densus 88

Rumah di Cemani, Grogol yang digeledah Densus 88 (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO –  Ada sejumlah temuan saat penggeledahan Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri di rumah Muhammad Irfan, 45, di Gang Perkutut RT 01 RW 19, Waringin Rejo, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Senin (18/11). Polisi mengamankan catatan tangan tentang panduan merakit bom hingga replika senjata dan bendera ISIS. Total ada 55 jenis dan ratusan item barang sitaan dari rumah Irfan. Dia disebut-sebut termasuk dalam jaringan pelaku bom Pospam Tugu Kartasura jelang Lebaran lalu.

Kapala Desa Cemani, Grogol Hadi Indrianto mengamini penggeledahan di Waringin Rejo. Hadi mengatakan jika Muhammad Irfan bukan warga asli Cemani. Namun, sudah lama tinggal di rumah istrinya bersama mertuanya. 

“Informasi ditangkap. Namun, saya tidak tahu di mana. Karena saya hanya diminta untuk menyaksikan penggeledahan,” terang Hadi pada Selasa (19/11).

Dalam penggeledahan itu ditemukan berbagai macam barang. Seperti buku catatan pribadi yang ditulis tangan tentang perakitan bom, buku-buku tentang Al Qaeda serta buku berisi untuk memusuhi penguasa murtad dan buku terkait jihad.

Selain itu ditemukan rakitan senjata api laras panjang, ketapel, beberapa compact disk (CD) mengenai latihan perang dari Suriah, belasan bendera bertuliskan arab dan ISIS, tiga buah ponsel, uang tunai dan lainnya.

“Penggeledahan berlangsung sekitar dua jam. Ada yang ditemukan di kamar maupun ruang tamu. Ada barang-barang yang dimasukkan di dalam dua tas,” katanya.

Irfan  sudah cukup lama tinggal bersama istri dan mertuanya. Dia juga dikenal ramah dengan tetangga. Setiap pertemuan RT maupun kerja bakti selalu hadir. Sehari-hari dia bekerja sebagai pedagang buku kecil-kecilan.

“Katanya hasil pengembangan terkait kasus terduga teroris sebelumnya di Waringin Rejo,” imbuhnya. 

Hadi mengaku sempat kaget dengan penggeledahan salah satu warganya. Sebab, sebelumnya penggeledahan juga terjadi di Waringin Rejo. “Saya inginnya juga tidak ada lagi yang bersembunyi di Cemani. Setiap dikabari tentang penggeledahan juga mendadak,” katanya. Istri Irfan tidak banyak komentar terkait penangkapan suaminya.” Itu fitnah,” ujarnya sambil berlalu.

Salah satu tetangga Muhammad Irfan, Sri Warningsih, 48, mengatakan, jika Irfan sudah menikah sejak 16 tahun lalu. Sehari-hari Irfan berjualan buku berkeliling dari masjid ke masjid.

“Katanya kemarin (18/11) masih terlihat beli es. Lalu pukul 14.00 banyak polisi ke sini bilang kalau dia sudah ditangkap dan mencari istrinya untuk menemani saat penggeledahan. Karena saat itu istrinya tengah bekerja,” terangnya.

Irfan dikenal baik dan selalu ikut kegiatan desa. Bahkan dia ditunjuk sebagai pengurus RT. Ketika diminta menyerahkan fotokopi KTP dan KK untuk kepengurusan tersebut, dia hanya menyerahkan KK dan menolak memberikan KTP.

“Di kampung itu baik dan ikut gotong royong.  Hanya saja kalau coblosan (pemilu) dia tidak mau dan memilih pergi bersama istrinya,” ujarnya.

Sri Warningsih mengatakan, Irfan tinggal bersama istri, ibu mertua dan kakak iparnya. Pernah sekali waktu dia mengadakan pengajian secara tertutup. Padahal siang hari. Hingga akhirnya ditegur ketua RT setempat. Dan sejak itu Irfan tidak lagi menggelar pengajian lagi. 

“Kalau salat pun juga tidak di masjid sini. Malah ke masjid daerah Tipes, Solo,” terangnya.

Kapolsek Grogol Iptu Grandika membenarkan jika ada penggeledahan di Waringinrejo, Grogol. Pihaknya hanya diminta membantu pengamanan selama penggeledahan dilakukan. Iptu Grandika mengaku di daerah Grogol penggeledahan hanya terjadi di satu tempat tersebut.

“Dia ditangkap di tempat lain. Yang jelas bukan di daerah Grogol. Dan kemarin itu mendadak. Terkait jaringan apa juga belum tahu. Memang kemarin (18/11) banyak di wilayah Solo dan sekitarnya,” katanya.

Penggeledahan berlangsung selama hampir dua jam lebih. Dan tidak ada penolakan dari pemilik rumah. Tidak hanya Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri, namun juga Tim Inafis Polres Sukoharjo hingga satreskrim. 

Ketika ditanya barang yang ditemukan AKP Grandika mengaku tidak tahu. Namun, dilihat dari bawaannya cukup banyak yang diamankan.

Selain itu penggeledahan juga terjadi di Dukuh Tegalrejo Rt 05 RW 03, Pranan, Polokarto. Penggeledahan dilakukan di rumah Qowie Muqimudin sekitar pukul 13.10 sampai 13.35. Terduga teroris berprofesi sebagai penjual es doger.

Kepala Desa Pranan, Polokarto, Jigong Sarjanto mengatakan, Qowie selama ini membaur dengan masyarakat. Dia juga dikenal ramah dan tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.

“Saya tidak menyangka ada warga saya yang begitu. Anaknya juga dikenal membaur dengan warga seperti biasa,” terangnya.

Qowie sebelumnya dipulangkan dari Suriah sekitar 2016 lalu. Namun dia tidak tahu terkait kasus apa. Sedangkan barang bukti yang diamankan berupa ponsel, kompor gunung, STNK, dan uang tunai. (rgl/bun)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia