Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Hari Anak Dunia, Support Teman yang Tersandung Hukum, Penuhi Hak Anak

20 November 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan bisa bermain harus dipenuhi

Hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan bisa bermain harus dipenuhi (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Konvensi Hak Anak (KHA) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 November 1989 disebutkan 10 hak yang wajib dipenuhi orang tua kepada anak. Yakni, hak untuk bermain, hak mendapatkan pendidikan, dan hak untuk mendapatkan perlindungan.

Hak untuk mendapatkan nama atau identitas, hak mendapatkan status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak untuk berperan dalam pembangunan.

Namun, belum semua anak-anak memahami hak-hak wajib mereka terima tersebut. Nita Andryanti, siswa SMAN 4 Surakarta ini mengaku tidak mengetahui hak apa saja yang seharusnya ia dapatkan.

“Jujur, aku tidak tahu hak-hak anak apa saja selain mendapatkan makan, minum, uang saku, bermain, dan bebas menentukan kesenangannya. Sejauh ini, aku mendapatkan semua hal itu. Jadi aku merasa hakku sudah terpenuhi semua,” ungkapnya, kemarin.

Nita, sapaan akrabnya menambahkan, meski dia sudah mendapatkan semua hak-hak yang disebutkan, dia tetap wajib bertanggung jawab atas hak yang diberikan kepadanya. Ini bertujuan agar ia terhindar dari urusan hukum yang bakal menjeratnya jika dia berlebihan menerima haknya.

“Misalnya, aku dibebaskan bergaul dengan siapa saja. Tapi aku tetap harus menjaga batasannya. Sekarang banyak kan anak-anak terseret kasus hukum berawal dari media sosial. Nah, aku harus sangat berhati-hati menjaga diri dan menggunakan media sosial dengan bijak. Meskipun aku diberi kebebasan untuk itu,” sambungnya.

Anak lainnya, Pandam Pamungkas, siswa SMAN 1 Sukoharjo bisa menyebutkan, hak-hak anak yang wajib dia terima. “Semua hak itu aku merasa sudah dipenuhi oleh orang tuaku. Juga dipenuhi oleh masyarakat dan lingkungan sekitar. Contohnya di sekolah. Jadi aku merasa tidak perlu menuntut hak. Sekarang tinggal aku yang harus melaksanakan kewajiban sebagai anak,” bebernya.

Soal banyaknya kasus anak berhadapan dengan hukum, Pandam mengatakan, dia sangat berhati-hati agar terhindar dari perbuatan yang berkaitan dengan pelanggaran hukum. Kategori berhadapan dengan hukum, lanjut Pandam, ada tiga. Yakni sebagai pelaku, korban, dan saksi.

“Jadi harus berusaha berada di jalan yang benar. Agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan atau sesuatu yang mengakibatkan kita berhadapan dengan hukum. Nah, kalau kita punya teman yang berhadapan dengan hukum, sebagai korban atau saksi, kita harus mendukung secara lahir dan batin. Termasuk pelaku agar tidak mengulangi,” katanya.

Berbagai upaya bisa ditempuh agar anak-anak terhindar dari urusan hukum. Salah satunya bergabung di komunitas atau forum yang beranggotakan anak-anak. Biasanya, komunitas atau forum tersebut memiliki segudang kegiatan positif untuk anak-anak.

“Aku ikut cukup banyak organisasi anak. Baik di dalam maupun luar sekolah. Anggotanya semua anak-anak. Alasanku ikut selain menambah teman, juga menambah pengalaman,” ujar Naufal Arizona, siswa SMAN 1 Sukoharjo. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia