alexametrics
Senin, 18 Jan 2021
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Pengguna Branjang Apung “Dimiskinkan”

20 November 2019, 15: 37: 01 WIB | editor : Perdana

SANKSI TEGAS: Personel gabungan merazia branjang apung di Waduk Gajah Mungkur, Selasa (19/11). 

SANKSI TEGAS: Personel gabungan merazia branjang apung di Waduk Gajah Mungkur, Selasa (19/11). 

Share this      

WONOGIRI – Berkali-kali diingatkan, penggunaan branjang apung untuk menangkap ikan di Wadung Gajak Mungkur (WGM) masih saja ada. Sebab itu, kemarin (19/11), tim gabungan gelar razia dan tindakan tegas. 

Sedikitnya sepuluh jaring branjang apung dan tiga kerekan disita petugas pemkab, polres, Pemprov Jateng dan pemerintah pusat. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan dan Peternakan (Dislapernak) Wonogiri Sutardi mengatakan, sebanyak 15 personel gabungan menyisir WGM sejak pukul 07.00-11.00.

“Harapannya dengan razia secara rutin membuat pengguna branjang apung jera. Model mereka kan besar. Kalau kita operasi terus, lama-lama modalnya juga habis,” ujarnya. 

Sekadar informasi, penggunaan alat tangkap ikan diatur dalam  Undang-Undang Nomor 31/2004 tentang Perikanan. Pelanggaran akan dikenakan sanksi pidana enam tahun penjara dan denda maksimal Rp 1,2 miliar.

Branjang apung dilarang karena memiliki kerapatan jaring kurang dari 2 inch seperti yang diatur dalam  UU Nomor 31/2004.

Di lain sisi, dampak perubahan musim, ribuan ton ikan di karamba apung WGM mati. Sugiyanto, 42, salah seorang pemilik karamba apung menuturkan, kejadian tersebut rutin setiap tahun.

"Airnya (waduk) semakin dangkal. Oksigen dalam air berkurang. Ini kemarau terparah sepanjang hidup saya," ujar warga Dusun Bendorejo, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri Kota itu. 

Berdasarkan laporan yang diterima dinas kelautan perikanan dan peternakan, selama tiga hari terakhir, satu ton ikan mati. Padahal sebulan lagi bisa dipanen. "Mayoritas yang mati ikan nila. Harga di pasaran per kilogram Rp  25 ribu. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news