Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Layanan Penukaran Surat Keterangan E-KTP Banjir Komplain

22 November 2019, 07: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Antrean penukaran e-KTP di kantor Dispendukcapil Sukoharjo hingga keluar ruangan, Kamis (21/11)

Antrean penukaran e-KTP di kantor Dispendukcapil Sukoharjo hingga keluar ruangan, Kamis (21/11) (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Sukoharjo menginformasikan kepada warga untuk segera menukarkan surat keterangan (suket) menjadi KTP elektronik via aplikasi perpesanan WhatsApp (WA), Kamis (21/11). Begitu tiba di kantor dispendukcapil, komplain pun bermunculan. Bahkan sempat terjadi adu mulut dengan petugas.

Sejak pukul 06.30, tempat penukaran e-KTP di kantor dispendukcapil disesaki warga. Ada yang antre sejak subuh. Salah seorang pemohon e-KTP, Sidi, 40, warga Sukoharjo Kota mengaku mendapat pesan via WA untuk menukarkan suket, Kamis (21/11) sekitar pukul 01.16.

Warga pindahan dari Jakarta itu pun merasa legal karena sudah mengurus e-KTP sejak Oktober lalu. Dia tiba di kantor dispendukcapil sekitar pukul 06.45. Tapi, antrean di tempat itu sudah membeludak. 

Sekitar pukul 07.00, petugas menginformasikan bahwa e-KTP yang tersedia hanya 200 keping. Padalah jumlah antrean lebih dari 500 orang. “Kami protes ke petugasnya karena sama sekali tidak diarahkan teknis penukarannya bagaimana," ujar dia.

Kondisi semakin memanas ketika beberapa warga sempat beradu mulut dengan petugas. Sebab, jumlah warga yang menerima pesan WA tak sebanding dengan jumlah blangko e-KTP yang tersedia.

"Harusnya kan transparan. Berapa (jumlah e-KTP) yang mau dikeluarkan. Jadi masyarakat jelas dan paham,” tegasnya.

Baru setelah diprotes, lanjut Sidi, jumlah blangko e-KTP ditambah menjadi 500 keping dan petugas memberikan arahan. Ratusan warga tersebut diminta mengisi daftar nama kemudian dipanggil untuk diberi nomor antrean.

Ditambahkan Sidi, mengacu instruksi dari kelurahan, satu orang yang mengantre bisa mengambil e-KTP keluarga lain dengan menunjukkan KK. Namun kenyataanya, satu antrean hanya diperuntukan satu orang.

Serupa dikeluhkan Septiaji warga Gatak. Dia hanya bisa mengambil e-KTP atas namanya, sedangkan e-KTP istri masih “tertahan” karena satu nomor antrean hanya untuk mengambil satu e-KTP.

“Yang saya sesalkan antreannya tidak teratur. Desak-desakan. Setelah lama antre, ternyata e-KTP istri tidak bisa saya ambil. Dulu waktu saya masukkan berkas, katanya e-KTP suami dan istri bisa diambilkan suami atau istri,” jelas dia.

Kepala Dispendukcapil Sukoharjo Sriwati Anita mengatakan, sejak sepekan lalu, pihaknya menerima sebanyak 500 blangko e-KTP, sedangkan total antrean mencapai 32 ribu orang.

"Kami dapatnya dari pemerintah pusat hanya 500 blangko. Tidak ada yang kami simpan-simpan. Kami tidak memiliki kewenangan terkait pengadaan blangko. Hanya menerima kiriman saja," ucapnya. (rgl/wa)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia