Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Vandalisme Balai Persis Bukan Cara Yang Elegan

24 November 2019, 10: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Vandalisme Balai Persis Bukan Cara Yang Elegan

KEJADIAN vandalisme di Balai Persis oleh oknum tak bertanggung jawab, menjadi keprihatinan banyak pihak. Bangunan ini sendiri cukup bersejarah bagi perjalanan Persis Solo. Di tempat ini berjejer puluhan piala bekas kejayaan Laskar Sambernyawa terpajang. Bangunan yang sudah berdiri sejak tahun 1960an ini memang digunakan 

“Kebangetan pastinya. Mereka gak paham. Ini rumah kita bersama, kok jadi ikut-ikutan kena masalah. Mereka apa gak tahu sejarah bangunan ini seperti apa, sampai jadi korban vandalisme. Yang pasti kita mengutuk keras aksi ini,” terang Ketua Askot PSSI Surakarta Paulus Haryoto kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Belum diketahui secara pasti oknum perusak bangunan ini. Yang pasti besar kaitannya, aksi vandalisme ini juga buntut dari kekecewaan beberapa pihak terkait problematika terkait saham Persis Solo. 

Polemik saham di PT Persis Solo Saestu (PSS) yang mengelola Persis di Liga 2, cukup ruwet dan penuh drama. Mayoritas klub internal sepakat tak mengakui Vijaya Fitriyasa sebagai owner Persis. Dia membeli 70 persen saham di PT PSS, yang sebelumnya dimiliki PT Syahdana Properti Nusantara, yang merupakan perusahaan milik Sigid Haryo Wibisono.

Klub internal yang tak sepakat karena tak ada agenda RUPS dalam pembelian dan penjualan saham PT PSS tersebut. Belakangan, klub internal sempat sepakat mendukung Setiyo Joko Santosa sebagai owner baru Persis. Bahkan perwakilan internal, Sabtu (16/11) lalu menemui petinggi PSSI untuk mengutarakan problematika yang ada di Persis Solo saat ini.

”Tak sependapat dengan sebuah keputusan itu wajar, tapi cara kritiknya harusnya elegan. Tidak dengan merusah fasilitas seperti ini, apalagi ini bangunan bersejarah,” terang salah satu pentolan Pasoepati, Ginda Ferachtiawan.

Pria yang menjabat sebagai anggota DPRD Kota Surakarta ini juga berharap pihak Vijaya Fitriyasa, Sigid Haryo Wibosono, Askot PSSI Surakarta hingga klub internal, bisa menyelesaikan permasalahan ini secepatya. 

”Kuncinya memang komunikasi antar sesama stakeholder, harus berjalan dengan lancar. Saya lihat ini masalah internal perusahaan, tak seharusnya juga melebar hingga ke PSSI,” ujar Ginda. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia