Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Hari Ini, Kongres Perempuan Jateng I Digelar 

25 November 2019, 07: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Hari Ini, Kongres Perempuan Jateng I Digelar 

SEMARANG – Kongres Perempuan Jawa Tengah kali pertama akan digelar di Hotel UTC, Jalan Kelud Raya Semarang, Senin ini (25/11). Kongres yang diselenggarakan selama dua hari ini diikuti oleh organisasi dan komunitas perempuan, serta elemen masyarakat lainnya. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah Retno Sudewi menjelaskan, kongres yang diinisiasi pihaknya bersama Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Tengah itu diselenggarakan atas dasar tanggung jawab para organisasi perempuan. Sudah saatnya organisasi perempuan ini bersama-sama konsolidasi lewat gerakan sosial untuk mencari solusi bersama. Tema yang akan diangkat yakni, menguatkan kepemimpinan perempuan untuk mewujudkan pemerintahan yang demokratis, adil dan sejahtera. 

“Capaian-capaian penting dalam bidang demokrasi, perdamaian, keadilan dan kesetaraan gender yang dinikmati perempuan saat ini bukan otomatis didapatkan setelah Indonesia merdeka. Tapi dari hasil perjuangan panjang gerakan perempuan lintas kapasitas, kelompok, suku, agama dan pilihan politik,” beber Dewi. 

Mengingat pentingnya pembahasan permasalahan perempuan, sebelumnya pernah dilaksanakan Kongres Wanita I di Jogjakarta, Kongres Wanita II di Jakarta dan Kongres Wanita III di Bandung. Kongres I, II dan III menghasilkan banyak rekomendasi penting untuk mengatasi kesenjangan dan diskriminasi perempuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, perkawinan/ keluarga, hak memilih dan dipilih (politik), kekerasan dalam rumah tangga (poligami) dan kekerasan seksual. Bahkan ikrar persatuan organisasi perempuan yang dibacakan peserta Kongres Wanita I pada 22 Desember 1928 diperingati sebagai Hari Ibu. 

Saat ini, kata Dewi, sudah 91 tahun setelah Kongres Wanita I, atau sudah 74 tahun sejak Indonesia Merdeka, atau sudah 21 tahun reformasi. Berbagai masalah kesenjangan dan diskriminasi terhadap perempuan masih terus terjadi. Kemiskinan perempuan, ketidaksetaraan upah dan kesempatan pekerjaan, kekerasan dan perdagangan perempuan, perkawinan anak, kematian ibu dan rendahnya partisipasi politik perempuan di parlemen dan dalam pembangunan merupakan berbagai permasalahan yang masih dihadapi oleh perempuan. 

“Untuk itu Kongres Perempuan Jawa Tengah I perlu dilaksanakan untuk memberikan rekomendasi penyelesaian masalah perempuan saat ini,” bebernya.

Dewi menunjuk contoh, di Jawa Tengah dari 2015 – 2019 tercatat ada 8.640 perempuan yang melapor dirinya mengalami kekerasan berbasis gender. Kemudian lebih 50 persen perempuan kepala keluarga (Pekka) di Jawa Tengah tidak memiliki akta nikah, 78 persen bercerai karena mengalami KDRT, 40 persen buta huruf serta 56 anak mereka tidak memiliki akta kelahiran.

Dari 120 anggota DPRD Jawa Tengah hasil Pemilu 2019, hanya terdapat 22 anggota DPRD perempuan atau hanya sebesar 18,3 persen. Padahal, keterwakilan perempuan sebagai calon anggota legislatif DPRD Jawa Tengah pada Pemilu 2019 tercatat sebesar 40,6 persen. 

“Untuk itu pascapemilu, Pilkada Jateng 2018 dan Pilpres 2019, gerakan perempuan di Jawa Tengah memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk mendiskripsikan apa yang terjadi, tetapi harus,  melakukan konsolidasi gerakan sosial,”  terangnya.

Beragam agenda akan dibahas di Kongres Perempuan hingga Selasa (26/11). Kongres hari pertama akan dibuka Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dengan keynote speech Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Gusti Ayu Bintang Darmawati yang akan memaparkan “Perspektif Perempuan Indonesia dalam Pembangunan”. Selain itu masih banyak narasumber lokal maupun nasional pada diskusi tematik. Pada akhir acara, ditargetkan ada hasil keputusan kongres.

“Kongres Perempuan Jawa Tengah I ini akan menjadi tonggak pelaksanaan kongres selanjutnya. Hasil kongres akan diimplementasikan dalam program jangka pendek dan jangka panjang, sehingga tidak hanya merupakan slogan tetapi realisasi program untuk solusi bersama,” tandas Dewi. (kom/bun)

Fakta Perempuan di Jawa Tengah

8.640

Korban kekerasan perempuan di Jawa Tengah dari 2015 – 2019

50 persen

Perempuan kepala keluarga  di Jawa Tengah tidak memiliki akta nikah

78 persen

Perempuan bercerai karena mengalami KDRT

40 persen

Perempuan buta huruf 

18,3 persen

Perempuan anggota DPRD Jateng

Sumber: DP3AP2KB Jateng

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia