Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Animo Masyarakat Awasi Pemilu Rendah

25 November 2019, 13: 16: 59 WIB | editor : Perdana

SOSIALISASI LEWAT BUDAYA: Pertunjukan seni tari khas Kabupaten Boyolali dalam Gelar Budaya Bawaslu di lapangan Desa Sendang, Kecamatan Karanggede, kemarin (24/11).

SOSIALISASI LEWAT BUDAYA: Pertunjukan seni tari khas Kabupaten Boyolali dalam Gelar Budaya Bawaslu di lapangan Desa Sendang, Kecamatan Karanggede, kemarin (24/11). (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menilai peran masyarakat dalam mengawasi pesta demokrasi masih rendah. Dibuktikan dari minimnya laporan pelanggaran pemilu yang masuk. Seperti diutarakan Koordinator Divisi Penindakan dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Jateng Sri Wahyu Ananingsih di sela Gelar Budaya Bawaslu di lapangan Desa Sendang, Kecamatan Karanggede, Boyolali, Minggu (24/11).

Dia menyebut masyarakat terkesan menutup mata. Pada pemilu April lalu, hanya 20 persen laporan dugaan pelanggaran yang masuk. “Total laporan masuk 677. Nah yang 500-an merupakan hasil temuan Bawaslu di kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Kami mendorong masyarakat ikut aktif melakukan pengawasan,” ucapnya.

Gelar Budaya ini, lanjut Sri Wahyu, diharapkan bisa diterima semua lapisan masyarakat. Agar kesadaran mereka muncul. Aktif melaporkan setiap pelanggaran pemilu. Mengingat tahun depan ada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak.

“Sangat bagus sekali, menggunakan media seni tradisi untuk sosialisasi. Semoga dari kegiatan ini pengawasan masyarakat terhadap kegiatan pilkada pada 2020 mendatang meningkat. Bertujuan agar pemilu dan pilkada berjalan lebih demokratis serta transparan,” ujarnya.

Ketua Bawaslu Boyolali Taryono menambahkan, Gelar Budaya dijejali sosialisasi tugas Bawaslu terkait pengawasan pemilu. “Melalui Gelar Budaya ini, kami mengajak masyarakat aktif menjadi pengawas partisipatif. Tahun lalu sudah baik. Maka ke depan agar lebih baik lagi,” bebernya.

Sementara itu, Gelar Budaya diisi pertunjukan reog serta seni tari khas Boyolali. Reog dipilih karena berkembang pesat di Kota Susu. Setiap kecamatan, bahkan desa/kelurahan memiliki grup seni reog.

“Dari seni reog ini, diharapkan kesadaran berpolitik maupun menjadi pengawas pemilu semakin meningkat. Pilkada berjalan lebih baik,” tandas Taryono. (wid/fer

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia