Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Transaksi Pasar Wisata Singkong Jatisobo Pakai Uang Kayu

25 November 2019, 14: 50: 38 WIB | editor : Perdana

KREATIF: Bupati Juliyatmono saat meresmikan Pasar Singkong Jatisobo.

KREATIF: Bupati Juliyatmono saat meresmikan Pasar Singkong Jatisobo.

Share this      

KARANGANYAR – Setelah 20 tahun mangkrak dan tidak terurus, Pasar Klerong di Dusun Klerong, Desa Jatisobo, Jatipuro akan berganti nama menjadi Pasar Singkong Jatisobo (Passibo). Harapannya, pasar tersebut dapat kembali beroperasi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dengan mengusung konsep pasar wisata, tempat berjualan para pedagang dibuat seperti gubuk pematang sawah. Selain itu transaksi jual belinya dilakukan dengan matau uang kayu berbentuk bulat dan persegi panjang. Pecahan uang yang dapat ditukar mulai dari Rp 1.000, Rp 2.000, dan Rp 5.000.

Ide pasar wisata bermula dari kelompok Keluarga Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan di lokasi tersebut.

Ketua Tim Pelaksana Program Hibah Dana Desa (PHDB) Arsyi Boga Rasa Putra menyampaikan, Pasar Klerong mangkrak selama hampir 20 tahun. Kemudian dibuat Passibo dengan mengajukan bantuan melalui PHDB dari Kemenristekdikti.

”Kenapa konsepnya pasar wisata? Wilayah ini strategis, perbatasan antara Kabupaten Karanganyar dengan Kabupaten Wonogiri dan Sukoharjo. Saat ini kebutuhan masyarakat untuk berwisata cukup tinggi,” ungkapnya.

Selain menawarkan pasar wisata, ruko lama yang sebelumnya mangkrak akan dibangun kembali dan digunakan untuk tempat berjualan aneka olahan dari singkong yang menjadi komoditas masyarakat setempat. Sampai saat ini sudah ada sekitar 35 pedagang yang berjualan tanpa dipungut retribusi. Ada yang berjualan jamu, tiwul, kripik cethol dan lain-lain.

”Nantinya ini akan diserahkan kepada pihak desa untuk dikelola. Namun kami akan tetap melakukan pendampingan," ujarnya.

Kades Jatisobo, Triyono mengatakan, Pasar Klerong milik Pemda. Pihaknya pernah mengajukan supaya dapat dikelola oleh pihak desa. ”Dengan passibo ini menjadi stimulus untuk membangkitkan pasar yang lama mati. Sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Bupati Karanganyar Juliyatmono mengungkapkan, dirintisnya Passibo diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Pemerintah akan melakukan penataan supaya terlihat rapi.

”Jika sudah rapi, semua bisa berjualan di sini. Tempat ini akan jadi jujukan. Selain jualan aneka olahan berbahan singkong, bisa jualan makanan apa saja,” tutur bupati. (rud/adi)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia