Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Satukan Visi Atasi Persoalan Perempuan 

26 November 2019, 13: 01: 10 WIB | editor : Perdana

AKRAB: Atikoh Ganjar Pranowo berikan kejutan ulang tahun kepada Menteri PPPA Bintang Puspayoga saat pembukan Kongres Perempuan Jawa Tengah I, Senin (25/11).

AKRAB: Atikoh Ganjar Pranowo berikan kejutan ulang tahun kepada Menteri PPPA Bintang Puspayoga saat pembukan Kongres Perempuan Jawa Tengah I, Senin (25/11). (KOMINFO JAWA TENGAH)

Share this      

SEMARANG – Angka kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan di Jawa Tengah masih tinggi. Untuk menyatukan visi dan misi mengatasi persoalan itu, Pemprov Jateng menggandeng berbagai pihak pemerhati perempuan untuk menggelar kongres perempuan pertama di Jawa Tengah

Kongres perempuan digelar di Hotel UTC Semarang Senin kemarin (25/11) dihadiri 750 peserta. Mereka berasal dari instansi pemerintah lintas sektor, tim penggerak PKK, organisasi-organisasi perempuan dan anak,  serta komunitas pemerhati perempuan dan anak seluruh Jawa Tengah.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) I Gusti Ayu Bintang Darmavati. Bintang menegaskan, hasil kongres perempuan di Jateng akan menjadi acuan dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia.

“Penurunan angka kekerasan pada perempuan dan anak memang harus dikeroyok bersama. Saya senang, karena Jateng menggelar kongres perempuan ini sebagai langkah mencari solusi. Saya berharap, hasil kongres ini tidak hanya untuk pemberdayaan perempuan di Jawa Tengah, namun akan kami jadikan acuan dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia,” kata Bintang.

Bintang menambahkan, dalam indeks pembangunan perempuan dan anak, nilainya terus mengalami peningkatan. Artinya, berbagai persoalan perempuan dan anak sudah tertangani dengan baik.

“Namun masih banyak hal yang harus diselesaikan. Maka saya apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemprov Jateng yang menggelar kongres ini sebagai langkah serius dalam mengatasi kekerasan dan diskriminasi perempuan dan anak,” tegasnya.

Di lain sisi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai, kongres perempuan penting untuk digelar. Selain memecahkan masalah yang sudah terjadi, kongres ini diharapkan dapat memprediksi persoalan-persoalan perempuan di masa yang akan datang.

“Kita tidak bisa menggunakan cara lama, karena perubahan dunia begitu cepat. Bicara kekerasan atau diskriminasi perempuan, tidak cukup hanya yang begini-begini saja,” kata Ganjar.

Tentang meningkatkan daya saing perempuan, menurut Ganjar, perempuan tidak mungkin berdaya apabila tingkat pendidikannya rendah dan tidak memiliki keterampilan. Maka dalam kongres ini, diharapkan ada rekomendasi-rekomendasi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan bagi perempuan.

“Kami tunggu rekomendasi-rekomendasi dari kongres ini, agar menjadi pertimbangan dalam penentu kebijakan. Kami juga berharap, dalam kongres ini dirumuskan agar perempuan berdaya secara ekonomi, sosial, politik, kesehatan dan lain sebagainya,” tegasnya.

Sebenarnya lanjut Ganjar, sudah banyak aksi nyata yang dilakukan Pemprov Jateng terhadap diskriminasi kaum perempuan. Di antaranya kerja sama dengan polda dan kejati terkait penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan juga membuka selter-selter konsultasi.

“Kami juga mendorong berbagai instansi seperti pendidikan, sosial dan juga dinas perempuan untuk keroyokan bersama. Karena soal perempuan tidak bisa hanya diurusi dinas perempuan, semua harus bergerak bersama dan banyak sektor yang harus terlibat,” terangnya.

Tak hanya itu, Ganjar juga mendorong perempuan untuk terlibat aktif dalam penentuan kebijakan publik. Di Jateng lanjut dia, setiap musrenbang, perempuan menjadi yang pertama selain anak dan difabel, untuk menyuarakan pendapatnya. “Dengan begitu, maka kami berharap kebijakan yang diambil tidak selalu maskulin, tapi berprespektif gender,” ujarnyanya. 

Ketua TP PKK Jawa Tengah Atiqoh Ganjar Pranowo mendorong perempuan, khususnya di Jawa Tengah, mesti berdaya. Sebab, ketika kaum hawa tersebut tak berdaya, misalnya ketergantungan ekonomi maupun proteksi dari suami dan lingkungan laki-laki, berpotensi menjadi korban KDRT.

“Karenanya, pada kongres yang diselenggarakan kali pertama di Jateng, harapannya bisa merumuskan aspirasi permasalahan yang menjadi pekerjaan rumah di Jawa Tengah. Makanya kita mengangkat tema perempuan berdaya, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, dan diri sendiri,” terang Atikoh.

Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Tengah sekaligus ketua panitia, Nawal Arafah Yasin menambahkan, Kongres Perempuan Jawa Tengah I ini untuk mengajak seluruh komponen organisasi perempuan dan lapisan masyarakat mengenang semangat pergerakan perempuan. Terutama perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan Indonesia pada 22 Desember 1928. 

“Meski saat ini sudah 91 tahun pasca Kongres Wanita I, tetapi masalah kesenjangan dan diskriminasi terhadap perempuan masih terus terjadi,” ujarnya.

Persoalan ini seperti masalah kemiskinan, ketidaksetaraan upah dan kesempatan pekerjaan, kekerasan dan perdagangan perempuan, dan perkawinan usia anak. Selain itu, kematian ibu dan rendahnya partisipasi politik perempuan di parlemen dan pembangunan merupakan berbagai permasalahan yang masih dihadapi oleh perempuan.

“Kali pertama organisasi, komunitas, dan elemen terkait masalah perempuan di Jawa Tengah bahu-membahu konsolidasi gerakan sosial mencari solusi bersama, dengan menyelenggarakan kongres perempuan. Tak hanya seminar dan diskusi, ada pula suguhan kesenian daerah, pemberian bantuan, serta pameran produk karya perempuan. Termasuk rekomendasi kepada pemerintah. (kom/bun)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia