Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Kongres Perempuan Hasilkan Tujuh Maklumat

27 November 2019, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

BAHAS INTOLERANSI: Ketua BKOW Jawa Tengah Nawal Arafah mengisi sesi diskusi di Kongres Perempuan Jateng I, Selasa (26/11).

BAHAS INTOLERANSI: Ketua BKOW Jawa Tengah Nawal Arafah mengisi sesi diskusi di Kongres Perempuan Jateng I, Selasa (26/11).

Share this      

SEMARANG – Kongres Perempuan Jawa Tengah I yang digelar sejak Senin (25/11) hingga kemarin, menghasilkan tujuh maklumat. Hasil ini dibacakan pada penutupan kongres di Hotel UTC, Selasa (26/11). 

Maklumat yang dicetuskan dari hasil Kongres Perempuan Jawa Tengah I ini direspons positif oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pj Sekda Provinsi Jawa Tengah Herru Setiadhie yang menutup kegiatan kongres mengatakan, maklumat tersebut merupakan representasi persoalan yang dihadapi selama ini. Seperti toleransi yang saat ini menjadi barang mahal, atau relasi sosial yang semakin dijauhkan karena kehadiran smartphone.

“Tadi ada satu kata intoleransi. Sekarang sesama umat muslim saling mengkafirkan. Apalagi dengan agama lain. Padahal ajaran kita Bhinneka Tunggal Ika. Saling menghormati,” tuturnya.

Herru juga mencontohkan persoalan terorisme yang pelakunya sebagian besar generasi milenial. Dia menengarai, perbuatan mereka sebagai akibat kurangnya komunikasi dan kasih sayang dari orang tua. Maka merespon hasil dari Kongres Perempuan Jawa Tengah, pihaknya memastikan hasil yang telah disepakati dapat terakomodasi dalam perencanaan pembangunan, baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Setiap OPD juga akan diminta untuk memberikan peran sesuai kewenangan mereka untuk membantu implementasi hasil kongres.

“Kalau betul-betul diimplementasikan, saya yakin Kongres Perempuan akan memberikan manfaat bagi bangsa dan negara, khususnya Jawa Tengah,” ujar dia.

Masalah intoleransi ini juga dibahas dalam kongres ini. Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah Nawal Arafah mengatakan, selama lima tahun terakhir ada pergeseran pelibatan perempuan yang semula sebagai korban, kemudian pendukung, dan merambah menjadi pelaku atau aktor intoleransi, berhijrah dan menjadi jihadis.

Dia menunjuk contoh kejadian bom bunuh diri di Mapolres Medan baru-baru ini, yang ditengarai kuat korbannya terpapar radikalisme dari isteri dan guru ngajinya. Pelibatan istri juga terjadi pada kasus bom tiga gereja di Surabaya pada 2018 silam.

Keadaan perempuan yang secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik terdiskriminasi, membuatnya minim akses pengetahuan dan pendidikan. Belum lagi pengaruh budaya patriarki yang mengharuskan perempuan untuk taat terhadap perintah suami, termasuk dalam aksi radikalisme-terorisme. Apalagi jika pemahaman mereka terhadap agama keliru.

“Dari kondisi tersebut, perempuan dipandang lebih mudah didoktrinasi, dipengaruhi untuk terlibat dalam aksi radikalisme dan intoleransi. Perempuan juga dianggap lebih lembut dan halus dalam melakukan upaya radikalisme,” ungkapnya.

Nawal menambahkan, bukan saja terkait pemahaman keagamaan yang sempit dan keliru, tindakan radikalisme juga dipengaruhi apa yang mereka alami. Misalnya, kekerasan, konflik, peperangan, kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan, diskriminasi gender. Selain itu, nilai-nilai dan tatanan kehidupan dianggap gagal mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan keadilan abadi. Akibatnya, ideologi radikalisme dan intoleransi yang sekarang ini dikemas dalam materi lebih sistematis, bahkan mudah diakses secara online maupun offline, membuat mereka mudah terpengaruh.

Lantas bagaimana cara membentengi diri agar terhindar dari pengaruh radikalisme dan intoleransi? Nawal memberikan tips agar perempuan dan seluruh masyarakat, terus menciptakan narasi-narasi perdamaian dan ajaran Islam moderat, yang mengedepankan asas kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, dan toleransi, terutama melalui media sosial. Tingkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai radikalisme, terorisme dan intoleransi.

“Tingkatkan akses pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, serta pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi perempuan. Khususnya pada kelompok rentan, seperti perempuan miskin, perdesaan, dan sebagainya. Wujudkan keadilan dan kesetaraan gender di rumah tangga, termasuk mengakhiri Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT),” bebernya. (kom/bun)

Tujuh Maklumat Kongres Perempuan Jateng I

1. Mendorong dan memberikan ruang seluas-luasnya kepada perempuan agar terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan penentuan arah pembangunan. 

2. Mendorong terciptanya relasi sosial yang aman, nyaman, dan tidak diskriminatif dalam rangka meningkatkan pemberdayaan perempuan.

3. Mendorong perempuan menempati posisi strategis di pemerintahan, dunia usaha, perguruan tinggi dan masyarakat. 

4. Mendorong terwujudnya kerja sama yang kuat antara perempuan dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, ormas, keagamaan dan komunitas dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang adil, demokratis dan sejahtera.

5. Menguatkan kapasitas dan peran perempuan dalam membangun perdamaian, menghapus intoleransi, kekerasan, perdagangan perempuan dan perkawinan anak yang telah menghambat pemberdayaan perempuan. 

6. Mengonsolidasikan dan mensinergikan seluruh pengetahuan, karya, temuan dan keterampilan perempuan untuk mendorong terwujudnya pemerintahan yang demokratis dan sejahtera.

7. Mendorong penghapusan norma sosial dan tradisi yang menghalangi perempuan untuk terlibat aktif dalam upaya mewujudkan tatanan sosial yang setara dan adil.

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia