Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sragen

Pelatih Silat Tersangka, Sembilan Orang Dilepas

27 November 2019, 14: 20: 37 WIB | editor : Perdana

Pelatih Silat Tersangka, Sembilan Orang Dilepas

SRAGEN – Pasca kejadian meninggalnya siswa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dalam latihan Minggu malam (24/11), polisi langsung gerak cepat. Setelah melakukan serangkaian proses penyelidikian, seorang pelatih, AFS, 16, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. 

Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan mengatakan, sudah ada satu tersangka terkait kasus ini. Dia dijerat pasal 395 KUHP. Terkait kesalahan yang menyebabkan orang meninggal. Hukuman maksimal 5 tahun penjara. “Ya, sudah ada tersangka,” ujar Yimmy singkat.

Wakil Ketua Ranting PSHT Gemolong Sutarso mengatakan, pihaknya terus mengawal terkait kasus meninggalnya salah satu siswa PSHT di Gemolong. Polisi sudah memperbolehkan pulang sembilan orang saksi yang saat itu berada di lokasi kejadian. “Satu orang masih ditahan polisi. Inisialnya AFS,” ujarnya, Selasa (26/11).

Setelah kejadian ini, PSHT Gemolong akan mengumpulkan semua anggota dan melakukan evaluasi. Namun, evaluasi barau akan dilakukan setelah tujuh hari meninggalnya korban MAM, 12. Salah satu yang akan menjadi pembahasan adalah apakah pelatihan akan divakumkan atau ditugaskan pelatih dengan usia lebih senior. ”Karena waktu itu, yang melatih kebetulan yang baru disahkan 2018-1019,” terangnya.  

Terpisah, Ketua PSHT Cabang Sragen Jumbadi mengatakan, pihaknya akan menyosialisasi lagi mengenai faktor keselamatan dan cara pemberian materi pada siswa. Pengurus Pusat PSHT juga sudah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Jumbadi menjelaskan untuk menjadi seorang pelatih harus mengikuti diklat kepelatihan. Setiap ranting di Sragen yang sudah didiklat memberi pemahaman kepada pelatih di tingkat bawah. ”Peristiwa kemarin di luar kesengajaan. Selain itu, yang melatih juga baru disahkan tahun kemarin. Namun sebenarnya sudah diberi pembekalan sebelum jadi warga (PSHT),” kata Jumbadi. 

Jumbadi menegaskan akan ada pendampingan hukum bagi warga PSHT yang berurusan dengan hukum, termasuk AFS. ”Ada pendampingan. Selain berbelasungkawa kepada keluarga yang meninggal, kami juga memikirkan yang di tahanan, baik korban maupun pelatih juga kami pikirkan,” bebernya. (din/bun)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia