Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Soal Limbah PT RUM, Pemkab Dinilai Kurang Tegas

28 November 2019, 15: 13: 06 WIB | editor : Perdana

BELUM RAMPUNG: Pembangunan extra blower oleh PT RUM yang diklaim untuk mengurangi dampak bau limbah.

BELUM RAMPUNG: Pembangunan extra blower oleh PT RUM yang diklaim untuk mengurangi dampak bau limbah.

Share this      

SUKOHARJO – Dampak bau limbah PT RUM masih saja dirasakan warga. Mereka menilai pemkab kurang tegas menyikapi persoalan tersebut. 

Ari Suwarno, warga Dusun Banaran, Serut, Nguter mengaku tersiksa dengan bau limbah sejak bulan lalu. Apalagi rumahnya hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari pabrik PT RUM. "Ke mana-mana selalu bawa masker. Jika bau datang, masker langsung dipakai. Efeknya kepala pusing, mual-mual, dada sesak, susah nafas dan tenggorokan kering. Kasihan anak-anak balita. Yang orang tua saja kayak gini," terangnya, Rabu (27/11).

Ari menyayangkan sikap pemkab yang dinilainya terlalu lembek terhadap aktivitas pabrik di Desa Plesan, Nguter ini. Sebab, masalah bau limba ini sudah mencuat sejak 2017. "Sudah sejak 2017 kami menghirup  udara kotor dan bau busuk. Warga meminta agar bupati Sukoharjo membekukan izin operasional PT RUM," terangnya.

Warga terdampak limbah lainnya Ari menegaskan, pemkab baru bereaksi saat rakyat bergerak. “Pemkab memang sudah mengirimkan surat agar PT RUM menghentikan sementara produksi dan menyelesaikan masalah limbah. Tapi tidak dikawal, karena ketika surat dilanggar, juga tidak ada respons. Harusnya kalau tahu tidak mematuhi isi surat dari pemkab, bupati bisa perintahkan satpol PP menyegel pabriknya," beber dia.

Ketika warga melayangkan protes kepada PT RUM, lanjut Ari, selalu mendapatkan penjelasan yang sama. Yang intunya akan selalu melakukan perbaikan. Begitu pula dengan respons pemkab yang terkesan tidak tegas.

Sementara itu, juru bicara PT RUM Bintoro Dibyoseputro menjelaskan, pihaknya telah mematuhi surat Sekda Sukoharjo Nomor 660.1/4091 /X/2019 tertanggal 26 Oktober 2019 terkait pengurangan produksi dan perbaikan alat penyaring bau.

"Upaya PT RUM sesuai rekomendasi surat dari Dinas Lingungan Hidup (DLH) Sukoharjo. Salah satunya PT RUM menambah alat penyedot uap H2S agar (limbah) bisa diolah dengan sempurna,” katanya.

Selain itu, Extra Blower telah dioperasikan sejak pekan lalu secara on-off. Itu karena bangunan penampung uap H2S berupa beton cor belum rampung seluruhnya. 

"Tingkat produksi PT RUM sudah lama berada di kisaran amat rendah. Normalnya kami dari dua line yang masing-masing menghasilkan 40 ribu ton (serat rayon) per tahun. Dan saat ini yang beroperasi hanya satu line dengan posisi (produksi) 20 persen dari satu line. Jadi total hanya 10 persen," terangnya.

Terkait salah satu poin isi surat sekda Sukoharjo untuk pemberhentian sementara jika bau limbah masih bermasalah, Bintoro mengaku ada beberapa pertimbangan. Yaitu produksi rayon harus dilakukan untuk mempertahankan mesin tetap hidup.

"Jika mesin mati, secara teknis hampir tidak mungkin dinyalakan lagi akibat bekunya bahan baku dalam pipa-pipa. Karenanya mesin harus hidup," kata dia.

Sementara itu, Sekda Sukoharjo Agus Santosa ketika dikonfirmasi terkait tuntutan warga tentang pembekuan izin operasional PT RUM, pihaknya belum bisa menjawab. "Saya lapor bupati dulu. Sesuai dengan kewenangannya," terangnya singkat.

Sebelumnya sekda meminta PT RUM menghentikan produksinya jika bau limbah belum terselesaikan. Tujuannya agar manajemen perusahaan fokus memperbaiki alat pengolah limbah. (rgl/wa)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia