Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

500 Sumur Mengering, Seribuan KK Krisis Air

29 November 2019, 14: 27: 30 WIB | editor : Perdana

DAMPAK KERAMAU: Warga Klumprit, Mojolaban, Sukoharjo terpaksa ambil air dari tandon karena sejak dua bulan terakhir sumur mereka mengering.

DAMPAK KERAMAU: Warga Klumprit, Mojolaban, Sukoharjo terpaksa ambil air dari tandon karena sejak dua bulan terakhir sumur mereka mengering. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Kemarau panjang memicu krisis air bersih semakin meluas. Di Desa Klumprit, Mojolaban, Sukoharjo, setidaknya 500 sumur warga mengering. Akibatnya, warga mengalami krisis air bersih. Mereka terpaksa mengambil air dari penampungan air umum agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu warga, Handoko asal Trayon, Desa Klumprit, Kecamatan Mojolaban mengaku kesulitan air sejak dua bulan terakhir. Alhasil dia bersama warga lain harus mengangsu air di tandon penampungan yang telah disediakan pemerintah desa. Tandon air dari sumur dalam ini terletak tepat di dekat lapangam belakang SMP N 1 Mojolaban.

“Sumur sudah mengering dua bulan terakhir. Makanya kami mengangsu ke sini (tandon) yang disediakan desa,” katanya, Kamis (28/11).

Handoko mengambil air menggunakan gerobak mengaku bisa mengambil air hingga empat kali dalam sehari. Air bersih tersebut tidak hanya digunakan untuk mandi cuci kakus (MCK), namun juga untuk minum dan memasak.

Warga yang mengambil air biasanya menggunakan ember dan galon. Bahkan ada warga yang mengangkut menggunakan sepeda motor maupun mobil pikap. “Biasanya kami sudah antre sejak Subuh dan sore hari. Karena banyak sumur dangkal warga yang mengering. Dan tandon air di sini satu-satunya yang diandalkan warga,” terangnya.

Tidak berbeda jauh, warga Klumprit, Mojolaban Gunawan juga mengeluhkan hal yang sama. Setiap hari dirinya harus mengambil air menggunakan galon. Sekali angkut, Gunawan bisa membawa dua galon air menggunakan sepeda motornya.

“Karena jarak saya cukup jauh makanya saya ambil air pakai sepeda. Kemarau panjang jadi harus mengangsu (ambil air). Dan siapapun boleh ambil air di sini. Kalau tidak disediakan ya harus beli," katanya.

Terdapat dua tandon air yang digunakan warga untuk mengangsu. Masing-masing tandon terdapat tiga kran air. Air sendiri diambil dari dua sumur dalam yang letaknya tidak jauh dari tandom. Kedua sumur dalam tersebut milik salah satu klub sepak bola. Awalnya dibuat untuk menyirami rumput lapangan. Namun, karena tiap kemarau warga selalu kekurangan air. Sehingga air juga diberikan bagi warga yang membutuhkan.

Kepala Desa (Kades) Klumprit Hartana mengatakan, ada 1.613 kepala keluarga (KK) tersebar di sepuluh desa. Terdapat 1.304 sumur rumah tangga terdiri dari sumur dalam maupun dangkal. Dampak kemarau berimbas pada sumur dangkal warga yang kedalamannya tidak lebih dari sepuluh meter.

“Ada sekitar 500 sumur warga yang mengering. Dampak kekeringan harus mengangsu di tandon itu ada sekitar empat desa. Yakni Dusun Candirejo, Trayon, Klumprit, Premban. Bahkan sebagian Desa Sidan juga ada yang mengambil ke sini,” terangnya.

Hartana mengaku warga biasanya akan mengambil saat subuh dan sore hari sampai sekitar 22.00. Meski hanya ada dua tandon warga mengangsu secara bergantian. Warga sudah mengangsu di tandon dekat lapangan Desa Klumprit sejak empat tahun terakhir.

“Selain itu kebutuhan air warga ada yang mengandalkan PDAM dan Pamsimas. Bahkan ada warga yang mempunyai sumur dalam dan dibagikan ke tetangganya,” terangnya.

Kepala Penanggulangn Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto mengatakan, di Kecamatan Mojolaban memang tidak termasuk dalam daerah terdampak kekeringan. Sri mengaku sampai saat ini belum ada laporan masuk terkait kekeringan tersebut. “Sampai saat ini belum ada laporan Mojolaban membutuhkan dropping air. Jika sewaktu-waktu membutuhkan kami siap droping air,” terangnya. (rgl/bun)

Warga Terdampak Krisis Air Bersih

1.613 

Kepala keluarga (KK) 

10

Desa terdampak

1.304 

Sumur rumah tangga 

500

Sumur warga yang mengering. 

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia