Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Sandang Kampus Sehat, UNS Tegas Batasi Rokok

30 November 2019, 19: 00: 02 WIB | editor : Perdana

MENUJU SEHAT: Pejabat Kemenkes dan Rektor launching kampus sehat di UNS, Jumat (29/11).

MENUJU SEHAT: Pejabat Kemenkes dan Rektor launching kampus sehat di UNS, Jumat (29/11). (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Universitas Sebelas Maret (UNS) dicanangkan sebagai kampus sehat oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kemarin. Dengan predikat baru tersebut, UNS diimbau secara bertahap mengurangi peredaran rokok di wilayah kampus. Sekaligus mulai membatasi tempat-tempat yang diperbolehkan untuk merokok.

“Misalnya, kantin kampus tadinya jualan rokok dipasang di etalase depan. Sekarang mulai disembunyikan. Kalau bisa tidak kelihatan. Kemudian tempat merokok mulai dibatasi tidak semua tempat. Kita buat kawasan tanpa rokok,” beber Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono kepada Jawa Pos Radar Solo, usai launching kampus sehat di halaman rektorat kampus setempat, kemarin.

Anung menyadari memang perlu waktu untuk mengubah perilaku warga kampus. Pihaknya tidak bisa memaksa rektor UNS agar langsung melarang peredaran rokok di wilayah kampus. Sebab, mengubah perilaku harus dilakukan secara bertahap. Harapannya, UNS bisa menjadi contoh bagi kampus-kampus lain di Jawa Tengah.

“Rektor memegang otoritas penuh untuk membuat kebijakan itu. Misalnya, menerima satpam baru dengan syarat tidak merokok. Maka tidak ada perokok yang akan melamar menjadi satpam. Nah, itu yang akan lebih efektif dan menjadi contoh bagi semua unit kerja,” ujarnya.

 Memang hal itu dilakukan bertahap. Tergantung kesiapan dari seluruh penghuni kampus. Ini bukan hanya sekadar pencanangan, tapi inisiasi perubahan perilaku bersama. “Nanti setiap saat kami akan memantau. Tiga bulan lagi, enam bulan lagi, kami pantau apa yang bisa kami support,” sambungnya.

Anung mengungkapkan, Indonesia saat ini menghadapi transisi epidemiologi yang mengakibatkan Indonesia mengalami beban ganda penyakit. Terjadi pergeseran pola penyakit, di mana penyakit tidak menular (PTM) meningkat secara signifikan dan menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, sementara penyakit menular (PM) belum sepenuhnya teratasi dan masih menjadi momok yang menakutkan seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria, DBD, dan lain-lain.    

“Keadaan ini mengakibatkan beban biaya kesehatan terbesar di Indonesia saat ini disebabkan oleh PTM. Jumlah kerugian ekonomi akibat kematian dini dan sakit kurang lebih mencapai 1/3 GDP Nasional, di mana 70 persennya disebabkan oleh PTM,” imbuhnya.

Sebagian besar PTM dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya. Anung menyebut faktor risiko utama PTM adalah merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa PTM dan faktor risikonya sebagian besar terjadi pada kelompok usia produktif. Untuk mempercepat pengendalian PTM melalui sinergi upaya promotif dan preventif hidup sehat, maka pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden No 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang meliputi enam kegiatan.

“Yaitu peningkatan aktivitas fisik, perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan edukasi hidup sehat,” bebernya.

Implementasi germas menjadi tanggung jawab semua pihak. Perguruan tinggi sebagai wadah pendidikan generasi muda dan juga tempat berkumpulnya kelompok usia produktif yang potensial membentuk agent of change bagi sektor kesehatan dipandang memiliki potensi dan nilai tambah untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Menanggapi hal itu, Rektor UNS Jamal Wiwoho mengatakan, pihaknya akan memberikan peringatan ke kantin-kantin yang ada di kampus. Secara perlahan, pihaknya akan mengimbau kantin untuk mengurangi rokok dan membantu mengenyahkan perokok di kampus.

“Banyak kegiatan yang akan dilakukan UNS kaitannya dengan dicanangkan sebagai kampus sehat. Yaitu disingkat dengan Cerdik, yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup dan kelola sehat,” ujarnya. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia