Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ibu Meninggal, Yatim Piatu ADHA Diusir

01 Desember 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

MASIH ADA HARAPAN: Rumah Yayasan Lentera tempat menampung anak dengan HIV/AIDS yang sudah tak memiliki keluarga.

MASIH ADA HARAPAN: Rumah Yayasan Lentera tempat menampung anak dengan HIV/AIDS yang sudah tak memiliki keluarga. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

MERASAKAN kehangatan dan keceriaan dalam keluarga hanya menjadi mimpi bagi anak-anak ini. Mereka sudah yatim piatu dan tertular HIV/AIDS. Di antaranya adalah Bunga. Sejak lahir, gadis 14 tahun ini sudah mengidap penyakit mematikan tersebut.

Bukannya mendapatkan perhatian lebih, Bunga dan adiknya yang juga berstatus anak dengan HIV/AIDS (ADHA) malah diusir dari kampung halamannya di salah satu kabupaten di Jawa Timur. Itu membuatnya trauma. “Sampai sekarang selalu takut kalau bertemu orang baru,” terangnya ditemui di rumah Yayasan Lentera, Sabtu (30/11).

Secara fisik, Bunga terlihat sehat. Tapi, dia harus minum obat setiap hari demi menjaga daya tahan tubuhnya. Virus yang menggerogoti tubuhnya itu berasal dari sang ibu yang menderita penyakit serupa. “Sekarang ibu sudah meninggal,” katanya singkat.

Setiap kali mengenang masa lalunya, Bunga selalu menangis. Begitu pula ketika berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo. Dia masih ingat ketika sang ayah malah meninggalkan ibunya yang dalam kondisi sudah sakit parah. Hingga saat ini, Bunga tak tahu keberadaan ayahnya.

Tak lama usai sang ayah kabur, ibunya meninggal dua. Kala itu, Bunga yang baru berumur sepuluh tahun hanya tinggal berdua dengan adiknya di rumah mereka. Keluarga besarnya menolak untuk merawat mereka karena tahu penyakit yang diidap ibunya. “Warga lainnya juga menolak saya,” jelasnya sambil sesekali mengusap air mata.

Penolakan tersebut berujung pengusiran terhadap Bunga dan adiknya. Warga berdalih takut anak-anak mereka tertular HIV/AIDS. “Mereka datang ke rumah. Saya sama adik disuruh keluar dari rumah saat itu juga,” ucap dia.

Bunga dan adiknya hanya bisa menangis. Tak kuasa menghadapi desakan warga. Beruntung kepala desa setempat memberikan tumpangan hidup sementara waktu. Hingga akhir datang Yunus Prasetyo dan Puger  Mulyono selaku pengurus Yayasan Lentera. “Saya diajak tinggal di Solo. Karena sudah tidak punya siapa-siapa lagi, saya mau,” ucap dia.

Bunga merasa nyaman tinggal di rumah Yayasan Lentera. Fisik dan mentalnya kembali pulih. Dia bisa bersekolah, bermain bersama teman-temannya, dan lebih sehat karena rutin melakukan terapi. “Sudah sekitar empat tahunan tinggal disini,” jelasnya. Apakah menyimpan benci kepada sang ayah? Bunga menegaskan tidak pernah dendam. Dia selalu berdoa k agar ayahnya selalu dalam lindungan-Nya. 

Penolakan terhadap ADHA bukan hanya dialami bunga dan adiknya. Hampir setiap anak yang dirawat Yayasan Lentera mengalami nasib serupa. 

Ketua Yayasan Lentera Yunus Prasetyo menuturkan, ada sekitar 33 anak diasuh pihaknya. Rinciannya, 20 anak masih duduk di bangku SD, tiga anak SMP, sisanya masih bawah lima tahun (balita). “Terbaru kita kedatangan satu lagi, bayi, baru beberapa pekan lalu kita asuh,” tuturnya.

Ditambahkan Yunus, sebelum menyekolahkan ADHA, pihaknya terlebih dahulu melakukan survei ke sekolah dan memberikan keterangan terkait kondisi anak. Pihak sekolah pun paham.

Namun, bukan berarti tidak terjadi penolakan. Yayasan Lentera sedikitnya pernah memindahkan ADHA dari sekolah ke sekolah lainnya sekitar lima kali.  Lalu apa solusinya? Dia hanya bisa pasrah.

“Kita selalu mendampingi anak agar kondisi psikologisnya tidak drop, tidak merasa tersingkirkan. Kita beri pengertian. Itu yang lebih sulit. Kita minta pihak sekolah menjaga privasi murid-murid ini,” paparnya.

Selain merawat anak di rumah Yayasan Lentera, Yunus dan pengurus yayasan lainnya memberikan pendampingan kepada ADHA yang masih tinggal bersama keluarga. 

“Kalau keluarga masih menerima, akan lebih baik mereka tinggal bersama keluarganya.. Tetap kita support. Kita pantau. Ada home visit sebulan sekali dan sebagainya. Kalau (ADHA) di luar panti ada ratusan. Saat ini sudah ada yang SMA bahkan kuliah,” jelas dia.

Soal nominal biaya untuk mengurus para ADHA, Yunus enggan menyebutkan. Tapi yang jelas ada sumber dana dari para donatur, pemerintah, instansi swasta, dan para relawan. Anggaran tersebut digunakan untuk kebutuhan sekolah dan biaya kehidupan pribadi. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia