Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

KPA Gencarkan Sosioalisasi kepada Remaja dan Ibu Rumah Tangga

01 Desember 2019, 08: 15: 59 WIB | editor : Perdana

KPA Gencarkan Sosioalisasi kepada Remaja dan Ibu Rumah Tangga

SOLO – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Surakarta mencatat peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada 2019. Sedikitnya ada 700 orang yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Temuan tersebut diklaim sebagai bentuk peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penanggulangan dan pencegahan penyebaran HIV/AIDS.

Angka ODHA pada tahun ini meningkat tipis dari tahun sebelumnya. Penderita HIV/AIDS di Kota Bengawan pada 2018 tercatat 688 orang. Staf Administrasi dan Keuangan KPA Surakarta Hariyanti menyebut masyarakat yang memiliki risiko terkena HIV/AIDS mulai berani melakukan pemeriksaan. Perempuan yang akrab disapa Yanti itu menegaskan, mengikuti tes HIV/AIDS butuh keberanian, sebab mereka akan mengetahui status apakah terinveksi  HIVatau tidak.

“Kita sepakat pengobatan HIV/AIDS memakai rumus 90-90-90. Artinya 90 persen ODHA tahu statusnya, 90 persen dari mereka menjalani ART (antiretroviral therapy), 90 persen dari mereka mencapai VL (viral load) atau menekan jumlah virus. Kalau nggak mengetahui statusnya, jelas tidak bisa ditangani,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Sabtu (30/11).

Untuk melakukan tahapan pengobatan tersebut, KPA sebagai pemegang kemudi penanganan ODHA di Kota Solo menggandeng masyarakat yang diwadahi warga peduli AIDS (WPA). Mereka tersebar di seluruh kelurahan di Kota Bengawan. Tugas utamanya adalah mendampingi secara intens ODHA di wilayahnya agar menjalankan misi pengobatan secara tuntas.

“ODHA kadang malas untuk ART. Ini harus diingatkan. Sebab jika tidak rutin, maka risiko yang diperoleh akan lebih parah. Bahkan risiko penularan virusnya juga bisa saja berkembang cepat,” ujar Yanti.

Selain pencegahan, WPA juga dipastikan turut memonitor dan mendampingi hingga melakukan pemberdayaan ODHA.Tujuannya,  jangan sampai ODHA merasa tidak mendapat tempat di masyarakat. Padahal mereka secara rela hati mengikuti tes dan pengobatan sebagaimana yang dianjurkan oleh pemerintah. Risiko dikucilkan itu selalu muncul lantaran tidak semua masyarakat mengerti tentang HIV/AIDS.

“Ini yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita. Pengucilan itu masih saja ada. Kenyataannya ODHA belum semua terbuka dengan keluarga karena takut dikucilkan,” ungkap dia.

Tiga target utama KPA saat ini, lanjut Yanti, adalah tidak ada penularan HIV, tidak ada kematian karena HIV, dan tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. Ada beberapa wilayah di Kota Solo yang sangat terbuka menerima ODHA. Warga tidak melakukan diskriminasi dan memperlakukan sama dengan masyarakat yang lain.

Salah seorang pendamping WPA, Tri Wahyudi mengakui di lapangan banyak ditemukan warga yang belum memiliki kesadaran tentang penularan HIV/AIDS. Sebagian besar warga merasa takut meski secara teori mengetahui penyebaran virus tersebut tidak sekonyong-konyong.

“Kalau tidak melakukan perilaku yang berisiko, tidak akan tertular. Misalnya tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, tidak berganti-ganti pasangan. Maka dari itu para pendamping telah dibekali pengetahuan yang memadai untuk melakukan sosialisasi kepada warga masyarakat,” katanya. 

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta Siti Wahyuningsih menyebut, sosialisasi adalah tahapan paling penting dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS. Menurutnya remaja yang beranjak dewasa harus menjadi sasaran utama sosialisasi.

“Anak-anak seumuran SMA harus dijelaskan apa itu HIV/AIDS. Bagaimana bisa terkena? Bagaimana menghindarinya? Perilaku apa saja yang menyebabkan terkena. Termasuk bagaimana berinteraksi dengan penderita. Ditanamkan prinsip jauhi penyakitnya, bukan orangnya,” tuturnya.

Perempuan yang akrab disapa Ning itu menambahkan, sosialisasi kepada remaja lebih mudah terserap. Sebab mereka mampu mencerna informasi dengan baik. Apalagi jika dikemas dengan media yang kekinian. Seperti dibuatkan film pendek, audio visual melalui sosial media, serta mendatangkan tokoh yang sedang digandrungi.

“Tapi ada yang lebih penting lagi, yakni sosialisasi kepada ibu rumah tangga. Sebab dari beberapa kasus, ada ibu rumah tangga yang terkena AIDS padahal tidak pernah melakukan aktivitas yang berpotensi terkena HIV. Ternyata karena suaminya sering ‘jajan’ di luar,” paparnya.

Pemkot berharap masing-masing keluarga menjaga diri dari aktivitas yang memungkinkan terjadi penyebaran HIV/AIDS. “Harus punya benteng keluarga,” tegasnya. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia