Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Gencar Sosialisasi Pemanfaatan Tenaga Nuklir

Tanpa Bahan Kimia, Opor Bisa Awet 1,5 Tahun

01 Desember 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Perdana

VARIAN BARU: Beras hitam hasil pemanfaatan teknologi nuklir yang tinggi antioksidan dan rendah kandungan gula.

VARIAN BARU: Beras hitam hasil pemanfaatan teknologi nuklir yang tinggi antioksidan dan rendah kandungan gula. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Pemahaman masyarakat terhadap tenaga nuklir bisa dikatakan sangat minim. Yakni hanya menilai nuklir sebagai senjata pemusnah masal. Padahal apabila dimanfaatkan dengan benar, nuklir juga bermanfaat untuk bidang pertanian.

A.CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

STIGMA tersebut dirasakan langsung pembina komunitas muda nuklir nasional (Kommun) Ria Riatun. Kala itu, komunitasnya digandeng Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN) sebagai tamu untuk sosialisasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Muria, Jepara.

“Ketakutan luar biasa terjadi di masyarakat. Sampai ketika kita mau melakukan seminar, di depan gedung tempat kita akan melakukan sosialisasi ditutup warga. Bukan mau ikut seminar, tapi malah mau demo penolakan proyek. Padahal dengan terbangunnya PLTN, pertama nama kabupatennya terangkat, kemudian listriknya dapat dinikmati langsung oleh masyarakat,” urainya.

Kejadian serupa di Kota Bengawan. Ada salah satu rumah sakit akan membangun fasilitas  pengobatan kanker dengan teknologi nuklir. Saat itu, lahan sudah tersedia dan personel siap. Namun, warta setempat menolak fasilitas tersebut dengan alasan takut terkena radiasi.

“Padahal hal tersebut tidak mungkin terjadi. Karena sudah diperhitungkan secara matang. Masyarakat takut efeknya, padahal belum tentu terjadi. Di Indonesia lebih banyak masyarakat meninggal karena kecelakaan di jalan. Belum pernah ada karena radiasi nuklir,” ucap dia.

Sebab itu, Kommun lebih giat memberikan edukasi terkait pemanfaatan energi nuklir. Salah satunya lewat kegiatan bertema Nuclear Festival di UPT Laboratorium Pusat Universitas Sebelas Maret (UNS), Sabtu (30/11). Mereka mengenalkan hasil-hasil produk teknologi nuklir yang bermanfaat untuk kehidupan. Di antaranya beras hitam hasil iradiasi nuklir yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. 

Beras tersebut merupakan beras lokal yang sudah bermutasi setelah disinari dengan radiasi nuklir. “Cara ini bukan termasuk kategori rekayasa genetika. Kita melakukan mutasi terhadap satu makluk hidup tertentu untuk membentuk varian baru yang lebih unggul,” beber dia.

Butuh lima tahun melakukan riset mutasi beras hitam. Hasilnya lahir jenis beras baru yang diklaim memiliki antosianin dan antioksidan tinggi, kemudian kadar gulanya rendah, sehingga cocok untuk diet.

 “Benih beras lokal kita sinari selama 30 menit maka akan termutasi menjadi beras hitam,” terang Dosen Prodi Kima Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS itu

Selain beras hitam, saat ini yang sedang dikembangkan adalah pemusnahan bakteri menggunakan sinar radiasi nuklir, sehingga segala jenis makanan yang disinari akan bertahan selama 1,5 tahun. Proses pengawatennya bebas dari bahan kimia.

“Ada rendang dan opor yang kita sinar pada Januari tahun ini, kemudian bisa dilihat setelah diuji baru akan basi sekitar Juni 2020. Lalu apa manfaatnya? Kita tahu Indonsia negara rawan bencana. Jadi bahan makanan yang telah diawetkan ini bisa kita kirim (ke daerah bencana). Pengungsi tidak hanya mendapat mi instan,” ujar dia. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia