Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sempat Sulit Cari Tempat, Keris Kelir Kini Banyak Tawaran

01 Desember 2019, 17: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Sempat Sulit Cari Tempat, Keris Kelir Kini Banyak Tawaran

EMPAT tahun sudah Kisikelir berdiri menyajikan film-film alternatif kepada masyarakat Kota Bengawan yang haus akan referensi film tersebut. Selama itu, sudah tak terhitung berapa film yang tidak tayang di bioskop mainstream, tapi bisa dinikmati penikmat film di Kota Solo. Founder Kisikelir, Zen Al-Ansory mengaku awal muda pemutaran film alternatif ini ibarat sebuah pemaksaan bagi penonton film di Solo.

”Awalnya saya harus memaksakan penonton film di Solo menonton apa yang pernah saya tonton di festival film. Baik secara cerita, pendekatan, maupun konsep bertutur dalam film,” ungkapnya.

Salah satu program Kisikelir adalah memasyarakatkan film ke publik Solo dengan program layar tancapan. Terutama film pendek maupun panjang yang tidak cukup dikenal masyarakat, tapi punya prestasi bagus. Film-film semacam itu yang menjadi fokus Kisikelir.

Kali pertama pemutaran film, Kisikelir masih meminjam tempat di sebuah rumah kontrakan di Laweyan. Dengan memutar film-film pemenang Sundance Film Festival. Selanjutnya, Kisikelir bekerjasama dengan Kolektif, sebuah distributor film-film alternatif di Jakarta untuk mendapatkan akses eksklusif untuk memutar list film yang mereka kelola di Solo.

Salah seorang member Kisikelir, Nopsi mengatakan awalnya agenda rutin Kisikelir adalah dua mingguan pemutaran rutin. Kala itu, kebetulan Kisikelir mempunyai ruang sebuah kedai kopi yang secara fungsi dapat digunakan pemutaran film. Sayangnya, dua tahun berjalan kedai kopi tersebut tutup dan membuat Kisikelir harus mencari tempat lain.

“Dari keterbatasan ini akhirnya justru malah banyak tawaran ruang pemutaran untuk program-program kami. Kami bekerjasama dengan Mas Don Art yang memfasilitasi Kusuma Sari Restaurant sebagai tempat pemutaran pernah, lalu Rumah Budaya Kratonan juga pernah, dan pada akhirnya kami berkolaborasi juga dengan Bentara Budaya juga pernah. Belum lama ini, Kisikelir memutar film di Gudang Sekarpace. Hingga sekarang kami mencoba membuka untuk saling kolaborasi dengan pemilik ruang-ruang yang bisa kami gunakan untuk pemutaran film,” katanya.

Kisikelir tidak tergantung dengan siapapun. Mereka independen, mandiri, dan sampai saat ini mengakses film dari pembuat atau distributor. Jika perlu mereka membuat tiket untuk penonton. Hasilnya, dibagi sesuai kesepakatan.

“Hingga sekarang, paling tidak ketika Kisikelir mengadakan pemutaran di Solo pasti ada penontonnya. Hehehe,” pungkasnya. (aya/adi

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia