Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Masih Ada Harapan Pasien Gagal Jantung

02 Desember 2019, 12: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Masih Ada Harapan Pasien Gagal Jantung

SOLO – Pasien gagal jantung di Indonesia cukup tinggi. Jumlahnya mencapai lima sampai tujuh persen dari populasi penduduk negeri ini. Namun jumlah ini ibarat gunung es, hanya terlihat di permukaan saja. Jumlah pasien yang mengalami gagal jantung lebih dari itu. Ini salah satunya yang menyebabkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan defisit besar-besaran.

“Masyarakat masih belum sadar bahwa beban gagal jantung itu sangat besar sekali di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Padahal, sebenarnya dengan penanganan yang baik dan obat-obatan, kita bisa membalikkan keadaan. Kita bisa memperbaiki kondisi hidup pasien gagal jantung yang semula sudah putus asa menjadi lebih baik lagi,” beber dosen program studi (prodi) penyakit jantung dan pembuluh darah Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) Habibie Arifianto dalam sebuah seminar belum lama ini.

Mitos yang beredar tentang penyakit gagal jantung adalah selama ini dokter masih menyepelekan pasien gagal jantung. Bahwa jika pasien sudah diberi obat dan keadaannya stabil, masalah sudah selesai. Padahal, itu salah besar. Habibie menegaskan dalam dunia gagal jantung, pasien tidak akan pernah stabil meskipun sudah lebih stabil ketimbang kondisi sebelumnya.

“Nah, mitos inilah yang ingin kami hilangkan. Kami terus mengedukasi para dokter bahwa PR mereka masih banyak. Meskipun pasien sudah dikatakan stabil, obat sudah maksimal, tapi tingkat kematiannya masih tinggi sekali. Namun sayangnya, penyakit gagal jantung masih kalah pamor dengan penyakit kanker,” jelasnya.

Klinik Gagal Jantung Rumah Sakit UNS mencatat data pasien gagal jantung selama dua tahun terakhir sebanyak 800 pasien. Sebesar 98 persen dari jumlah tersebut mengalami perbaikan kondisi dalam jangka waktu tiga sampai enam bulan. Habibie menyebut fungsi jantung pasien yang buruk mengalami perbaikan kondisi menjadi lebih baik.

“Hasil tersebut merupakan upaya kami menyelamatkan pasien gagal jantung yang merupakan penyakit pembunuh nomor satu menurut World Health Organization (WHO). Meskipun kanker juga luar biasa mematikan, tapi ternyata gagal jantung lebih mematikan,” sambungnya.

Kepala Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Rumah Sakit UNS Trisula Wasyanto menambahkan, ada upaya pencegahan yang bisa dilakukan agar terhindar penyakit gagal jantung. Yakni dengan cara menghindari faktor risiko, di antaranya merokok, diabetes, hipertensi, kurang olahraga, dan obesitas.

“Sementara penyakit gagal jantung yang tidak bisa dimodifikasi adalah faktor keturunan. Solusinya, tetap berolahraga dan mengurangi konsumsi garam. Kalau sudah terkena penyakit jantung, konsekuensinya harus minum obat seumur hidup dan rajin berolahraga,” tandasnya. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia