Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

2.000 Orang Idap HIV/AIDS, Mayoritas Dikucilkan Masyarakat

02 Desember 2019, 22: 38: 29 WIB | editor : Perdana

Pengunjung CFD Jalan Slamet Riyadi memeluk aktivis Literasa Kolektif yang berkalungkan poster bertuliskan Aku HIV Boleh Cium dan Aku HIV Boleh Peluk dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia, Minggu (1/12)

Pengunjung CFD Jalan Slamet Riyadi memeluk aktivis Literasa Kolektif yang berkalungkan poster bertuliskan Aku HIV Boleh Cium dan Aku HIV Boleh Peluk dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia, Minggu (1/12) (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Data Komunitas Literasa Kolektif mencatat, 2.000 orang se eks Karesidenan Surakarta positif mengidap HIV/AIDS. Sebagian besar ditolak kehadirannya. Sebab pemahaman masyarakat terkait penyakit mematikan tersebut salah kaprah.

Sebagai upaya meluruskan pemahaman yang masih keliru itu, digelar aksi solidaritas di Solo Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (1/12). Peringatan Hari AIDS Sedunia ini dilakukan dengan memeluk para aktivis Literasa Kolektif yang mengalungkan poster bertuliskan Aku HIV Boleh Cium dan Aku HIV Boleh Peluk. Penanggung jawab komunitas Elizabeth Caca mengaku ingin mengubah stigma negatif itu. Dia ingin masyarakat tahu bahwa penularan penyakit HIV/AIDS tak semudah yang dibayangkan.

“Selama ini paradigma yang berkembang, penularan penyakit HIV/AID sangat mudah. Berjabat tangan saja bisa tertular. Padahal tidak. Kita berinteraksi, berjabat tangan, berpelukan, bahkan makan pakai sendok dan piring yang sama, tidak akan tertular,” terangnya di sela-sela acara.

Akibat kesalahan pola pikir tersebut, lanjut Elizabeth, banyak masyarakat menghindari, bahkan mengucilkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). “Dari data kami, ada sekitar 2.000 orang di eks Karesidenan Surakarta mengidap penyakit HIV/AIDS. Rata-rata mereka ditolak di masyarakat. Atas dasar itu, mereka kami tampung,” ucapnya.

Efando Sitomorang, salah seorang aktivis Literasa Kolektif menerangkan, banyak ODHA yang dikucilkan. Bahkan oleh keluarga mereka sendiri. “Jadi tujuan kami ini untuk mematahkan stigma, di mana selama ini kalau mendengar HIV/AIDS, cenderung menghindari orangnya. Padahal yang perlu dijauhi itu penyakitnya. Mereka berhak mendapat perhatian dari kita,” ujarnya.

Aksi solidaritas juga dilakukan di depan Loji Gandrung. Kali ini oleh 60-an siswa KB TK Surya Mentari. Mereka beraksi dengan media papan tripleks dan kapur tulis. Indah Triani, koordinator kegiatan mengaku ingin melatih kepedulian pelajar terhadap ODHA. “Mempunyai pesan khususnya kepada masyarakat umum untuk ikut peduli. Ikut berempati. Dan mencintai anak dengan hati. Tanpa stigma dan diskriminasi terhadap mereka (ODHA),” bebernya. (atn/fer)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia