Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

79 Buku Nikah di KUA Ngrampal Lenyap, Pencuri Sindikat Besar

03 Desember 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Polisi melakukan pemeriksaan di KUA Ngrampal

Polisi melakukan pemeriksaan di KUA Ngrampal

Share this      

SRAGEN – Sindikat pencuri buku nikah kembali terjadi di Sragen. Kali ini, pelaku menggondol 79 buku nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ngrampal, Minggu pagi (1/12). 

Aksi nekat ini sengaja memanfaatkan waktu libur. Mereka diperkirakan beraksi pukul 07.00. Berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP), pelaku masuk dengan cara merusak gembok pintu belakang. Setelah berhasil masuk ke dalam kantor, pelaku mengobrak-abrik lemari dan membawa kabur beberapa buku nikah.

Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan melalui Pjs Kasubbag Humas Polres Sragen AKP Harno menjelaskan, total 79 buku nikah yang hilang. Sejumlah 14 buku sudah diisi, namun belum diambil oleh pemiliknya. Saat ini polisi masih memburu pencuri buku nikah tersebut. 

Jika masyarakat mendapati sesuatu yang mencurigakan soal buku nikah, diharap segera melaporkan ke polisi. Pelapor dijamin bakal dilindungi.  ”Yang diambil cukup unik, buku nikah saja. Yang lain-lain tidak ada,” terangnya.

Disinggung kemungkinan adanya sindikat jual beli buku nikah, Harno mengaku masih melakukan penyelidikan. Sebab, pada 2018 lalu juga terjadi kasus sama di KUA Masaran. ”Semoga ada kaitannya. Kami tunggu hasil penyelidikan sampai tuntas,” ujar AKP Harno.

Terpisah Ketua Kelompok Kerja Penghulu (Pokjahulu) Sragen Muhammad Fadlan meyakini aksi ini dilakukan oleh sindikat jual beli buku nikah. Sebab, sasarannya sangat jelas, yakni hanya mengincar buku nikah. Buku itu bisa dipakai untuk kelompok tertentu dan digunakan kepentingan yang tidak benar.

“Buku nikah ini sangat mungkin dipakai untuk mengelabuhi warga tentang istri simpanan. Kalau di luar harganya sangat mahal. Bisa laku Rp 20 juta per buku. Saya pernah dimintai buku nikah dengan biaya berapa pun, tapi saya tolak,” terangnya.

Fadlan mengaku sulit melacak keberadaan buku nikah ini. Buktinya, kasus sama di KUA Masaran sudah setahun belum terungkap pelakunya. Dalam waktu dekat, polisi akan memeriksa petugas dan kepala KUA. 

”Saya juga pernah di-BAP. Pada 2011, di Tanon dulu juga pernah kehilangan sekitar 100 buku nikah, sekitar 2011,” terang dia.

Fadlan menyakini pelaku merupakan  sindikat besar. Sebab, kasus pencurian tidak hanya di Sragen, namun juga di kota-kota lain. Sebelumnya pada Oktober 2018, sejumlah 300 buku nikah kosong hilang di KUA Masaran. Hingga kini tidak ada kabar terkait perkembangan kasus ini. (din/bun)  

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia