Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Komnas PA Kawal Kasus Latihan Silat Berujung Maut di Sragen

03 Desember 2019, 12: 04: 59 WIB | editor : Perdana

Kasubag Humas Polres Sragen AKP Harno (kiri) tunjukkan bukti kasus kematian pesilat PSHT

Kasubag Humas Polres Sragen AKP Harno (kiri) tunjukkan bukti kasus kematian pesilat PSHT (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Sragen meminta kepolisian tetap memenuhi hak AFS, 16, tersangka pidana anak dalam kasus kematian pesilat anggota Persaudaraan Setia Hari Terate (PSHT). Komnas PA akan memberikan pendampingan hukum terhadap tersangka FAS yang masih berusia 16 tahun.

”Saya klarifikasi ke polres sudah klir dengan kasat reskrim. Kami membuat kesepakatan dengan polres dipersilakan untuk mendampingi atau memantau,” ujar Ketua Komnas PA Sragen Heru Setiyanto, kemarin (2/12).

Saat ini, pelaku sudah mendapat bantuan hukum dari pengacara PSHT. Pihaknya saat ini pasif karena sudah mendapat pendampingan hukum. Namun tetap memantau kondisi kejiwaan dan psikologi dari pelaku tersebut.

”Kita belum ada permohonan dari pihak keluarga. Ini kebetulan hari ini atau besok kontak ke saya mau merapat ke Komnas PA untuk tetap dipandu,” bebernya.

Kasat Reskrim Polres Sragen AKP Supardi mewakili Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan menyampaikan, kasus ini sempat mendapat perhatian dari Komnas PA. Dan, saat ini sudah ada komunikasi dengan Komnas PA.

”Sempat ada miskomunikasi karena dari Komnas Perlindungan Anak belum bisa menemui pelaku, tapi sudah selesai. Kita sama-sama sinergi melaksanakan perkara anak di bawah umur,” ujarnya.

Soal desakan tentang hak tersangka memperoleh pendidikan, pihaknya terus menjalin komunikasi dengan Komnas PA.

”Kami tidak membiarkan anak ini tidak sekolah. Jika akan tes, kita koordinasi supaya sekolah memfasilitasi dia mengikuti ujian,” jelasnya.

Dia menjelaskan pelaku masih ditahan di Polres Sragen. Karena masih anak-anak, tahanan dipisah dengan yang lain. Pihak sekolah diminta ke sekolah selama menjalani tes sekolah.

Diberitakan sebelumnya, salah satu siswa perguruan silat PSHT, MAM, 13, warga Gemolong meninggal saat mengikuti latihan PSHT di Desa Kaloran, Kecamatan Gemolong, Minggu malam (24/11). Pada sesi latihan, MAM pasang posisi kuda-kuda. Kemudia AFS, 16, memberikan tendangan sekali dengan kaki kiri ke arah perut MAM.

Setelah itu, MAM terjatuh ke belakang lantas kejang-kejang. AFS berusaha menolong dengan cara mengurut perutnya. Namun tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Sejumlah siswa yang berlatih lantas membawanya ke bidan Sherly  di Dusun Jayan,  Desa Saren, Kecamatan Kalijambe.

Saat ditangani, kondisi MAM sudah tidak sadar, lantas disarankan dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, MAM dibawa ke Rumah Sakit Yaksi Gemolong. Dia sempat mendapat pertolongan pertama oleh tim dokter dengan memakai alat pacu jantung. Namun, nyawa korban tidak tertolong dan meninggal dunia. (din/adi/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia