Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

6 Ibu Hamil dan 3 Balita HIV/AIDS

Tertular dari sang Ayah

03 Desember 2019, 15: 33: 59 WIB | editor : Perdana

6 Ibu Hamil dan 3 Balita HIV/AIDS

WONOGIRI – Pemkab dan elemen masyarakat harus lebih giat memerangi penularan HIV/AIDS. Sebab, terdapat enam ibu hamil dan tiga bawah lima tahun (balita) tertular virus mematikan tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonogiri Adhi Dharma melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Penyehatan Lingkungan ( Kabid P2PL) Suprio Herianto mengatakan, sejak 2011 hingga November 2019, tercatat ada sekitar 532 penderita HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, 308 pasien di antaranya masih hidup.

"Dari yang masih hidup, ada 111 penderita yang sudah mau membuka diri. Nah, yang belum membuka diri ini yang bahaya berpotensi menular," ujarnya, Senin (2/12).

Adapun sebaran HIV/AIDS di Kota Sukses hingga Juni 2019 yakni, Kecamatan Jatisrono sebanyak 64 penderita dengan 42 orang masih hidup, Tirtomoyo sebanyak 40 penderita dengan 20 pasien masih hidup. Girimarto 38 penderita dengan 20 pasin masih hidup.

"Paling sedikit Kecamatan Batuwarno dengan tiga penderita yang masih hidup. Disusul Paranggupito dengan enam penderita dengan lima penderita masih hidup. Lalu Manyaran ada delapan dengan enam penderita masih hidup. Wilayah lain berkisar 10 sampai 30 penderita," beber dia.

Ditambahkan Suprio, mulai Juni-November terdapat temuan baru 31 penderita HIV/AIDS. Di antaranya enam ibu hamil tertular dari suaminya dan tiga balita mengidap penyakit yang sama. "Penderita HIV/AIDS yang usia anak-anak hingga 2019 ada 11 anak. Tiga di antaranya balita," jelasnya.

Menurut Suprio, belum ada obat untuk menyembuhkan HIV/AIDS. Namun, pasien HIV/AIDS dapat minum obat antiretroviral (ARV) setiap hari untuk bertahan hidup. ARV membantu mengendalikan virus dan memperlambat efeknya pada tubuh selama bertahun-tahun. Obat tersebut dapat diperoleh secara gratis di puskesmas.

ARV mengandung tiga zat aktif Tenofovir, Lamivudine, dan Efavirenz (TLE) yang kini tersedia dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC). Memang obat ini tidak menyembuhkan HIV secara keseluruhan. Tetapi dapat mengurangi jumlah virus dalam tubuh pasien dan membangun sistem kekebalan tubuh agar cukup kuat melawan penyakit. 

"Jika pengobatan berlanjut tanpa gangguan, populasi virus akan turun ke titik yang dianggap tidak terdeteksi," tegas Suprio.

Karena virus tidak terbunuh, HIV/AIDS dapat muncul kembali jika pengobatan tiba-tiba dihentikan. Sebab itu, ARV harus terus menerus dikonsumsi pasien HIV/AIDS.

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Wonogiri Ige Budiyanto menerangkan, upaya penunjang penanggulangan HIV/AIDS yakni melakukan asistensi dan advokasi Warga Peduli AIDS (WPA) desa/kelurahan  dengan prioritas yang mengalami kasus mendesak dan krusial.

Upaya lainnya, advokasi dan tes HIV Mobile secara berkala ke kawasan rawan seperti rumah tahanan (rutan), tempat karaoke dan lokasi-lokasi rawan penularan. Termasuk melakukan asistensi dan advokasi HIV-AIDS kepada pelajar. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia