Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Jateng

Ganjar Pranowo Panggil Perusahaan Pencemar Bengawan Solo

04 Desember 2019, 14: 25: 13 WIB | editor : Perdana

TEGAS: Gubernur Ganjar Pranowo bertemu perwakilan perusahaan membahas pencemaran Bengawan Solo di kompleks kantor gubernur Semarang, Selasa (3/12).

TEGAS: Gubernur Ganjar Pranowo bertemu perwakilan perusahaan membahas pencemaran Bengawan Solo di kompleks kantor gubernur Semarang, Selasa (3/12). (BAYU WICAKSONO/RADAR SOLO)

Share this      

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tidak main-main menyikapi pencemaran di Sungai Bengawan lo. Sejumlah perusahaan yang terindikasi mencemari sungai ini kemarin dipanggil. Orang nomor satu di Jawa Tengah ini meminta agar perusahaan-perusahaan tersebut menghentikan aktivitas pembuangan limbah ke sungai.

Sebanyak 15 perusahaan besar diundang dalam acara rapat yang digelar di gedung B lantai 5 kompleks kantor gubernur. Selain perusahaan besar, perwakilan industri sedang, UKM dan peternakan juga diundang.

Ditemui usai rapat, Ganjar mengatakan, ada sejumlah kesepakatan yang diambil untuk penanggulangan pencemaran Bengawan Solo. Dia memberi waktu selama 12 bulan kepada sejumlah perusahaan tersebut untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbahnya. 

“Selama kurun waktu itu juga, aktivitas pembuangan limbah ke sungai harus dihentikan. Jika masih melanggar, saya minta aparat penegak hukum untuk turun tangan,” tegasnya, Selasa (3/12).

Sebanyak 15 perusahaan besar dan beberapa perwakilan perusahaan menengah, UKM dan peternakan, lanjut Ganjar, sudah sepakat dan meneken kontrak. Untuk pelaksanaannya, Ganjar akan menerjunkan tim khusus untuk pengawasan.

“Bila tidak cukup waktu, misalnya perbaikan sistem pengolahan limbah butuh waktu lebih dari setahun, maka harus izin khusus ke saya. Nanti akan kami pantau perkembangannya. Namun, kalau selama setahun tidak ada perbaikan pengelolaan limbah dan tetap membuang ke sungai, maka silakan aparat penegak hukum bertindak,” tegasnya.

Dalam rapat tersebut, andil industri besar cukup signifikan dalam kasus pencemaran Bengawan Solo. Sebab, mulai dari hulu sampai hilir, sejumlah industri besar berdiri di hampir semua titik lokasi yang dilewati Bengawan Solo.

“Ada banyak perusahaan besar, mulai Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Solo, Boyolali sampai Blora. Ada ratusan, belum ditambah perusahaan menengah, kecil dan peternakan,” tegasnya.

Untuk perusahaan besar lanjut Ganjar, mungkin tidak akan ada persoalan terkait pengelolaan limbahnya karena memiliki keuangan cukup. Namun pada perusahaan sedang dan UKM, persoalan limbah akan menjadi persoalan.

“Industri batik, tahu, ciu itu yang cukup sulit, karena mereka industri kecil. Maka saya tawarkan untuk memberikan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Dari Kementerian LHK juga mendukung untuk memfasilitasi,” tambahnya.

Sementara terkait persoalan berhentinya pengelolaan air bersih oleh PDAM Blora, Ganjar meminta PDAM melakukan sejumlah aksi nyata. Selama air Bengawan Solo belum bisa dimanfaatkan, maka berbagai upaya harus dilakukan dalam pelayanan masyarakat.

“Saya minta PDAM Blora agar pinjam air dulu atau utang air agar masyarakat dapat tetap mendapat pasokan air bersih,” ujarnya.

Sekadar diketahui, aliran Sungai Bengawan Solo mengalami pencemaran cukup serius. Pencemaran yang terjadi akibat limbah pabrik tersebut membuat air sungai hitam, sejumlah ikan mati dan tidak dapat dikonsumsi. Padahal, banyak masyarakat yang menggantungkan air bersih dari aliran sungai itu. (lhr/bun)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia