Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Petani Milenial Dongkrak Nilai Ekspor Jawa Tengah

04 Desember 2019, 14: 58: 00 WIB | editor : Perdana

EFEKTIF: Milenial tanam sayur di Desa Klakah, Selo, Boyolali.

EFEKTIF: Milenial tanam sayur di Desa Klakah, Selo, Boyolali. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SEMARANG – Sepertiga jumlah petani di Jawa Tengah merupakan generasi milenial. Kehadiran mereka menciptakan inovasi, baik kualitas maupun kuantitas produksi pangan. Seperti disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah Suryo Banendro.

Suryo mengatakan, jumlah petani milenial 975.600 orang. Atau 33,7 persen dari 2,88 juta petani di Jateng. Sebanyak 57.600 orang merupakan lulusan sarjana.

Kehadiran petani milenial konsen pada 22 komoditas hortikultura, tanaman pangan, dan hasil perkebunan. Diyakini membawa angin segar. Sebab sektor ini memang perlu dikelola oleh sumber daya manusia (SDM) berkualitas, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Kehadiran petani milenial terbukti cukup berkontribusi mendorong masuknya komoditas pertanian Jawa Tengah ke pasar internasional. Hingga September, nilai ekspor produk pertanian Jawa Tengah mencapai Rp 2,51 triliun,” terangnya.

Komoditas yang diminati pasar internasional yakni kedelai, edamame, petai, jengkol, kapulaga, kacang-kacangan, kopi, dan daun kelor. Beras hitam, daun cincau, gula merah, dan margarin asal Jawa Tengah pun rutin diekspor ke Australia, Malaysia, Srilanka, dan Bangladesh. Sarang burung walet juga memberi porsi ekspor hingga Rp 4,2 miliar.

Dari beberapa komoditas tersebut, kopi paling diminati. Tembus sembilan negara tujuan ekspor. Yakni Mesir, Italia, Georgia, Jepang, Iran, Uni Emirat Arab, Spanyol, Korea Selatan, dan Taiwan. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menambahkan, data pertanian tersebut jadi dasar utama pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan. Terlebih karena data berisi siapa yang menanam, apa yang ditanam, serta kapan dan di mana penanamannya. Lewat akurasi data itu, Ganjar optimistyis cita-cita Indonesia mengejar negara-negara maju di sektor pertanian terwujud. 

“Petani muda harus kita libatkan. Di lahan yang makin kecil maka teknologi harus masuk. Ingat, kita harus membuat lompatan besar. Jangan begini-begini saja agar kita bisa juara di politik pangan dunia,” katanya. (*/fer)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia