Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Digitalisasi Ribuan Literasi Sejarah Radya Pustaka

05 Desember 2019, 13: 51: 48 WIB | editor : Perdana

SAKSI SEJARAH: Digitalisasi naskah kuno Museum Radya Pustaka dilakukan agar bukti otentik mengenai informasi penting negeri ini tidak musnah.

SAKSI SEJARAH: Digitalisasi naskah kuno Museum Radya Pustaka dilakukan agar bukti otentik mengenai informasi penting negeri ini tidak musnah. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Upaya penyelamatan ribuan naskah kuno peninggalan kolonial dan masa prakemerdekaan koleksi Museum Radya Pustaka terus dilakukan pengelola. Salah satunya melalui program digitalisasi. Kegiatan ini dimulai kemarin (4/12) hingga Sabtu (7/12). Targetnya, 5.000 lembar halaman naskah kuno bisa didigitalisasi.

Pemrakarsa kegiatan, Yordan Aqsa dari PT Datascrip Jakarta menerangkan, kegiatan ini melibatkan Komunitas Bengkel Arsip Semarang dalam kegiatan selamatkan informasi arsip penting Republik Indonesia (Siap RI). Dipilihnya koleksi Museum Radya Pustaka, mengingat museum ini memiliki koleksi arsip sejarah sangat beragam dan menunggu untuk didigitalisasikan. “Koleksi di sini kan beragam, mulai dari tahun 1800 hingga 1900. Jadi kami bantu agar proses digitalisasi bisa makin cepat,” jelas dia di sela kegiatan.

Dalam kegiatan ini pihaknya membawa dua scanner khusus model terbaru berupa scanner kertas hingga scanner model kamera. Kedua alat ini difungsilan sesuai peruntukannya, di mana scanner kertas dilakukan untuk mendigitalisasi koleksi naskah yang berbentuk lembaran kertas. Sementara scanner foto digunakan untuk naskah dalam bentuk buku. 

“Sampai Sabtu mendatang minimal 5.000 lembar sudah terdigitalisasi. Teknis yang sama kami pakai saat digitalisasi naskah koleksi Museum Pura Mangkunegaran beberapa waktu lalu,” kata Yordan.

Pengelola manuskrip Museum Radya Pustaka Kurnia Heniwati menambahkan, adanya kegiatan itu membantu museum dalam digitalisasi arsip, mengingat sejauh ini pihak museum baru sebatas pada digitalisasi manuskip. “Kalau alat di museum ini kan terbatas, kami baru fokus pada digitalisasi ratusan manuskirp, sementara untuk naskah lama lainnya belum,” jelas perempuan yang akrab disapa Nia itu.

Sejauh ini, Museum Radya Pustaka memiliki 10 ribu koleksi buku dan 300 manuskrip. Oleh sebab itu, digitalisasi kali ini fokus pada arsip kesejarahan dari masa kolonial dan prakemerdekaan yang belum tersentuh digitalisasi. 

“Hasil digitalisasi ini berupa data digital. Dan bisa dimasukkan dalam e-katalog museum sehingga bisa mempermudah akses data oleh masyarakat. Serta menjaga keutuhan naskah-naskah lawas yang ada di museum,” tutur Nia. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia