Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Kemudo Bangun Pusat Industri Kreatif Terpadu

05 Desember 2019, 14: 26: 15 WIB | editor : Perdana

PEMANFAATAN LAHAN: Tanah kas Desa Kemudo, Prambanan, Klaten akan dibangun pusat industri kreatif.

PEMANFAATAN LAHAN: Tanah kas Desa Kemudo, Prambanan, Klaten akan dibangun pusat industri kreatif. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Tanah kas Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan di tepi Jalan Solo-Jogja bakal disulap jadi pusat industri kreatif terpadu. Lokasinya cukup strategis. Karena lagan seluas 2.400 meter persegi itu bersebelahan dengan SPBU.

Pembangunan pusat industri kreatif terpadu bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terutama usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) asli Desa Kemudo.

“Pusat industri kreatif terpadu nanti dilengkapi sejumlah fasilitas. Ada rest area, musala, dan galeri produk UMKM dalam bentuk toko desa. Juga dilengkapi food court, toilet, dan taman bermain anak-anak,” terang Kepala Desa Kemudo Hermawan Kristanto, kemarin (4/12).

Keberadaan pusat industri kreatif ini bakal terasa manfaatnya. Secara ekonomi bisa meningkatkan kesejahteraan warga. Daripada hanya dimanfaatkan untuk lahan pertanian. 

“Saya melihat saat arus mudik Lebaran, SPBU di sana dipenuhi pengguna kendaraan. Bahkan sering tidak mampu menampung kendaraan. Ini kesempatan untuk membangun rest area,” beber Hermawan.

Di sana juga akan dilengkapi toko desa. Menampung berbagai produk UMKM Desa Kemudo. Terutama produk meja dan kursi kafe berbahan kayu palet. Salah satu unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kemudo Makmur. Selain mebel, Desa Kemudo juga punya produk kuliner berupa sambal dalam kemasan. “Ada juga warga kami yang membuat aneka kue. Nantinya bisa dititipkan di toko desa,” ujarnya.

Pembangunan pusat industri kreatif terpadu diperkirakan memakan anggaran Rp 500-700 juta. Dilakukan secara bertahap. Namun diusahakan sudah melayani pemudik saat momen Lebaran tahun depan.

Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani mengimbau seluruh desa membentuk BUMDes. Mengelola berbagai unit usaha dengan potensi yang dimiliki masing-masing. “Dari 391 desa, baru 292 yang membentuk BUMDes. Saya harap yang lainnya segera membentuk. Nggak harus seperti Ponggok,” ucapnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia