Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Mantan Atlet Yohanes Kardiyono Tagih Komitmen Majukan Olahraga

07 Desember 2019, 17: 04: 04 WIB | editor : Perdana

HARAPAN BANGSA: Yohanes Kardoyono bersama atlet binaannya.

HARAPAN BANGSA: Yohanes Kardoyono bersama atlet binaannya.

Share this      

Mantan atlet Olimpiade 1984 di Los Angeles Yohanes Kardiyono merasa komitmen organisasi yang mengurusi olahraga di Bumi Sukowati masih kurang. Terbukti, dia harus mengeluarkan biaya mandiri membiayai atlet yang bertanding di beberapa kejuaraan.

AHMAD KHAIRUDIN, Solo, Radar Solo 

PERJUANGAN Kardiyono membina para atlet atletik tidak diragukan lagi. Selepas menjadi atlet atletik, dia masih komitmen mengurusi para atlet usia dini agar bisa berprestasi. Namun, dia mengaku perhatian terhadap para atlet dari  induk organisasi olahraga ini masih kurang. Akhirnya, dia harus pontang-panting tombok membiayai anak binaannya agar bisa ikut kejuaraan atletik.

Kardiyono baru saja mengantarkan anak asuhnya juara di dua event yang diikuti. Yakni kejuaraan atletik terbuka di Semarang 2 Februari 2019 dan event atletik Bahurekso Cup 2019 di Kendal pada Oktober lalu.

Pelatih klub atletik Meteor ini mengaku berangkat dengan biaya sendiri untuk kejuaraan Februari lalu. Sebab, pada umumnya saat awal tahun belum ada anggaran. Lantas dia merogoh kocek pribadinya Rp 1,420 juta untuk membiayai anak didiknya ke kejuaraan itu. Tapi sampai kejuaraan selesai, pengajuan dana yang disanggupi KONI tidak cair.

”Saya mengajukan dana yang telah saya keluarkan. Pengajuan memang belakang karena saya talangi dulu. Dana disanggupi KONI Rp 985 ribu, tapi sampai sekarang belum keluar,” ujar Kardiyono.

Padahal, di kejuaraan itu atlet binaannya membawa hasil cukup mentereng. Yulita Dianasih Kardiyono juara di usia 11 tahun. Sedangkan atlet lainnya masuk lima besar. Selanjutnya pada kejuaraan Oktober 2019 di Kendal, kembali anak didiknya Yulita meraih juara di kategori lari sprint 500 meter.

Pihaknya mengaku mendapat bantuan biaya 4.080.000. Padahal dalam realitasnya dia membutuhkan anggaran Rp 4.910.000. ”Seperti biaya hotel saya keluar Rp 1,5 juta. Memang mengajukan Rp 600 ribu karena saat itu dapat mess, sekarang tidak dapat,” bebernya.

Dia menegaskan, yang dipermasalahkan bukan dari nilai uangnya. Tapi komitmen dari KONI. ”Intinya bukan uang ganti operasionalnya, tapi pada komitmen yang katanya akan direalisasikan apabila susunan pengurus Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Sragen terbentuk. Setelah susunan PASI Sragen disahkan sampai sekarang tidak bisa direalisasikan,” bebernya.

Kardiyono sudah mencoba menemui Ketua KONI Sragen saat itu Sri Busono. Namun dia merasa di pingpong karena dari keterangan pengurus KONI yang baru masalah ini tanggung jawab pengurus KONI lama. “Padahal, pengurus KONI baru sudah disposisi dan proposal saya sudah diparaf oleh pengurus KONI lama yang terpilih kembali,” ujarnya.

Menanggapi keluh kesah Kardiyono ini, Wakil Ketua III KONI Sragen Bidang Bina Prestasi (Binpres) Gunawan Prasetya menegaskan, untuk kejuaraan di Februari 2019 memang tidak bisa cair. Lantaran proposal diserahkan setelah pelaksanaan kegiatan Mei 2018.

Selain itu, KONI berdalih Kardiyono tidak bisa menagih pada event Februari karena pada saat itu SK pengurus PASI yang lama sudah tidak berlaku sejak Oktober 2018. ” Pertama dia tidak memberi informasi kalau mengikuti kejuaraan. tahu-tahu menagih ke KONI. Kemudian SK PASI habis 2018, dan baru dibuat 16 September 2019. Jadi yang Februari batal demi hukum,” jelasnya.

Sedangkan pengajuan yang kedua, KONI sudah jelas sudah membantu meski tidak sesuai pengajuan. Pihaknya menjelaskan harus menyesuaikan sesuai indeks dan dia menilai ada poin pengajuan yang terlalu tinggi. ”Seperti sewa mobil diajukan Rp 350 ribu, padahal indeksnya Rp 250 ribu, uang saku official indeksnya Rp 100 ribu, dia minta Rp 200,” terangnya. (din/bun)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia