Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Nikmati Kuliner Malam sambil Naik Perahu

09 Desember 2019, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Nikmati Kuliner Malam sambil Naik Perahu

PENDAPA Kelurahan Mangkubumen awalnya hanya untuk menggelar kegiatan tingkat kelurahan seperti rapat dan berbagai penyuluhan. Namun dalam setahun terakhir, lokasi ini disulap jadi ruang ekonomi kreatif baru bagi masyarakat sekitar.

Pertama berkunjung ke pendapa itu, Jumat (29/11) malam, koran ini langsung disuguhi dengan alunan lagu tembang kenangan yang dimainkan dari dalam pendapa. Pengunjung pun diizinkan bergantian menyumbang lagu untuk memeriahkan suasana pusat kuliner baru di utara Overpass Manahan itu. 

Sambil menikmati live musik, pengunjung bisa mengunjungi sejumlah stand-stand yang menjajakan kuliner malam. Pengunjung bebas memilih menu apa yang diinginkan, mulai dari makanan tradisional hingga berbagai sajian hidangan laut dengan harga merakyat. 

“Enaknya di sini lokasinya tidak terlalu ramai seperti Galabo atau Kota Barat. Selain itu, juga ada hiburan live musiknya jadi bikin tambah nyaman. Harganya pun lebih miring dari pusat kuliner lainnya. Cocok untuk nongkrong,” ucap salah seorang pelanggan, Faizal Ihsan, 26.

Koran ini pun sempat berbincang dengan salah satu pemilik usaha kuliner setempat, Harmanto, 46. Penjual kuliner soto, rawon, dan berbagai masakan ini mengaku sudah setahun berdagang di Sasano Krida Warga Mangkubumen. Dia pun mengaku penghasilan yang didapat selama setahun menempati Sasana Krida sangat menguntungkan dibanding ketika berdagang di rumahnya dulu. “Dulu saya buka warung makan dirumah. Kalau ditanya penghasilannya lebih baik yang mana jelas lebih baik di sini. Bisa sampai lima kali lipat dibandingkan dagang dirumah dulu,” jelas warga RT 02 RW 07 Kelurahan Mangkubumen itu.

Peningkatan pendapatan itu lantaran pengunjung yang datang bukan hanya dari warga Mangkubumen saja, melainkan dari berbagai daerah lainnya. Pada hari normal, Harmanto mengaku bisa meraup pendapatan sebesar Rp 200-300 ribu. Di akhir pekan, pendapatannya bahkan bisa sampai Rp 500 ribu dalam semalam berdagang. 

“Di sini warga yang jualan tinggal pakai tempat. Semuanya gratis tanpa mengeluarkan biaya. Listrik air sudah dari kelurahan tendanya pun sudah disiapkan. Jadi fasilitasnya memang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh warga,” kata dia.

Pemberdayaan masyarakat dengan pemanfaatan ruang publik ini tek lepas dari peran penting kelurahan setempat yang sengaja membuka aset kelurahan untuk kegiatan masyarakat. Rintisan itu pun kini berbuah manis bagi masyarakat sekitar. 

“Biasanya bangunan aset pemerintah itu hanya sebatas untuk rapat, sosialisasi, dan lainnya. Bisa dibilang tak begitu termanfaatkan oleh masyarakat. Makanya pendapa ini akhirnya dibuka untuk masyarakat dan diberdayakan untuk kebangkitan ekonomi masyarakat," ucap Lurah Mangkubumen, Beni Supartono Putro.

Berbeda dengan Mangkubumen, Kelurahan Kestalan justru sedang memetakan dan mulai ancang-ancang memaksimalkan pemanfaatan potensi wisata daerah setempat. Yang jadi bidikan adalah koridor sungai yang kondisinya telah jauh lebih baik dengan pedestrian dan lampu-lampu taman yang sedap dipandang mata. Selain itu, kelurahan setempat juga akan mulai memanfaatkan Ponten Ngebrusan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar. 

“Karakteristik warga Kestalan ini sangat beragam tapi tidak ada yang begitu spesifik. Namun melihat adanya sejumlah ruang publik yang bisa dimanfaatkan ke depan arahnya akan ada pengembangan di sana,” jelas Lurah Kestalan Suyono.

Menyusuri koridor sungai di wilayah setempat, spot paling baik adalah koridor sungai sepanjang seratusan meter di sekitar Ponten Ngebrusan. Keindahan lampu taman di koridor sungai tampak selaras dengan pencahayaan hasil dekorasi yang dilakukan di sekitar Ponten. Jika termanfaatkan, tentu lokasi ini bisa jadi ruang kreatif baru bagi masyarakat setempat.

“Pemanfaatan koridor sungai jelas nanti izinnya harus ke berbagai tahap mulai dari izin wali kota sampai BBWSBS yang merevitalisasi lokasi itu. Nah, nanti kalau diizinkan akan kami manfaatkan untuk penataan ruang kuliner masyarakat,” jelas dia.

Spot kuliner itu nanti berhadapan langsung dengan aset cagar budaya Ponten Ngebrusan. Diharapkan dua spot baru itu nanti dapat saling mendukung untuk menciptakan wisata dan ruang kreatif baru bagi masyarakat. 

“Selama ini ponten hanya dimanfaatkan untuk gelar budaya. Ke depan harapannya juga bisa jadi sajian wisata baru yang konsepnya lebih terintegrasi dengan potensi di masyarakat. Salah satunya dengan potensi kuliner. Jadi pengujung bisa datang untuk ngopi sambil belajar sejarah dari ponten, atau hanya untuk sekadar bersantai dengan menyaksikan sajian hiburan dari warga. Kalau ini bisa berjalan tentu masyarakat akan makin berdaya. Pada 2020 mendatang kami mulai ke arah sana,” tutup Suyono. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia