Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

BPBD Solo Petakan Kelurahan Rawan Banjir

09 Desember 2019, 09: 15: 59 WIB | editor : Perdana

BPBD Solo Petakan Kelurahan Rawan Banjir

SOLO – Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari dan Februari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta mulai fokus antisipasi bencana banjir di sejumlah kelurahan di Kota Bengawan. Warga diminta waspada mengawasi ketinggian muka air sungai di wilayah masing-masing saat terjadi hujan lebat.

Kepala BPBD Kota Surakarta Eko Prajudhy Noor Aly mengungkapkan, pihaknya mulai rutin melakukan pengawasan sejumlah wilayah langganan banjir di Kota Solo. Ini sangat penting agar saat terjadi banjir bisa diantisipasi sejak awal. Atau setidaknya bisa meminimalkan dampak yang dialami masyarakat.

“Relawan sudah dibentuk di tiap kelurahan (kelurahan tanggap bencana). Mereka mulai disiagakan untuk antisipasi bencana yang terjadi di wilayah masing-masing,” kata Edko, Minggu (8/12).

Untuk pengawasan wilayah rawan banjir, sudah ada pemetaan di masing-masing kelurahan. Mengingat musim hujan tahun ini sedikit terlambat dari prediksi awal, maka pemetaan daerah rawan banjir dan bencana belum dapat dilakukan sehingga masih merujuk data tahun sebelumnya. 

“Prediksi awalkan hujan mulai turun sejak pertengahan tahun ini. Kemudian mundur di akhir tahun dengan potensi puncak hujan di Januari-Februari tahun depan. Maka data tahun sebelumnya masih kami dijadikan acuan,” beber Eko.

Berdasar data tahun sebelumnya itu, sedikitnya ada 25 kelurahan di Kota Solo rawan mengalami bencana banjir. Di antaranya seperti kawasan Kelurahan Semanggi, Kampung Sewu, Joyontakan, Sangkrah, Gandekan, Pucang Sawit, Laweyan, Pajang, Bumi, dan daerah lain langganan banjir. “Memang ada kemungkinan pemetaan potensi bencana banjir mengalami perubahan seiring perbaikan tebing sungai, pembuatan parapet dan tanggul, serta pengerukan sedimen dan pendalaman sungai. Namun, paling tidak ada antisipasi dulu dengan menyiapkan keperluan sebelum banjir datang,” terang dia. 

Atas dasar itu, pihaknya kini rutin memantau tinggi muka air sejumlah sungai di Kota Solo. Khususnya sungai-sungai besar yang berhubungan langsung dengan Sungai Bengawan Solo. “Kami selalu koordinasi dengan pengelola pintu air. Dan siapkan petugas untuk mengecek ketinggian air. Sebab, potensi banjir tidak hanya bisa muncul dari hujan lokal saja, namun juga bisa karena limpahan air dari daerah lain. Ini sudah kami komunikasikan dengan BPBD daerah lain untuk memantau curah hujan yang terjadi seperti di Sukoharjo, Klaten, Boyolali, maupun dari Wonogiri,” tutur Eko. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia