Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sragen

Pupuk Langka, Petani Menjerit

12 Desember 2019, 15: 25: 24 WIB | editor : Perdana

BELI NON SUBSIDI: Salah seorang petani di Tanon menunjukkan pupuk yang dia beli.

BELI NON SUBSIDI: Salah seorang petani di Tanon menunjukkan pupuk yang dia beli. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Kelangkaan pupuk mulai dirasakan petani di Kabupaten Sragen. Pupuk subsidi yang disediakan pemerintah hilang di pasaran. Untuk mengganti ke pupuk non subsidi, petani harus merogoh kocek lebih dalam.

Itu dialami petani-petani di Kecamatan Tanon. Mereka mengeluh sulit mendapatkan pupuk bersubsidi sejak beberapa Minggu lalu. Seperti pupuk Phonska dan Urea. Petani terpaksa membeli pupuk non subsidi dengan selisih harga yang lebih mahal. Phonska bersubsidi Rp 120 ribu, sedangkan non subsidi Rp 135 ribu. Urea subsidi Rp 95 ribu, non subsidi Rp 115 ribu.

Siswanto, 63, salah seorang petani Trombol, Desa Ketro, Tanon mengungkapkan, seharusnya saat ini sudah mulai masa pemupukan tahap dua. Namun di saat butuh pupuk banyak, tidak banyak yang menjualnya.

”Saya mencari di kelompok tani tempat saya kosong. Mencari di luar juga sulit, meskipun ada harganya agak mahal,” beber Siswanto, kemarin (11/12).

Senada diungkapkan Parmin, petani Desa Gading, Tanon. Dia menjelaskan, pupuk langka sejak awal tanam padi. Dia sudah ke kelompok tani, akan tetapi stoknya selalu kosong.

”Kemarin harga Urea untuk kelompok tani sempat turun jadi Rp 95 ribu. Tapi tidak lama pupuk 1 truk ludes diambil petani yang lain, banyak yang kekurangan kemarin,” keluhnya.

Kepala Dinas Pertanian Sragen Eka Rini Mumpuni menjelaskan, kelangkaan pupuk bersubsidi lantaran persediaan terbatas dan kurang dari pengajuan.

”Kami sudah tahu kalau kurang. Karena usulan sesuai RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok, Red) itu sudah kita ajukan sesuai kebutuhan. Tetapi turunnya berdasarkan kuota, jatahnya se Indonesia,” ujar Eka.

Dia menjelaskan dosis penggunaan pupuk subsidi terpaksa dikurangi karena persediaan terbatas. Dia juga mengakui selisih harga pupuk dengan yang non subsidi cukup tinggi.

”Kami berupaya menyampaikan ke pusat, agar disparitasnya tidak terlalu tinggi,” kata dia. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia