alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

25 Tahun Rinem Bertahan Membuat Opak, Kerupuk Singkong Khas Sragen

14 Desember 2019, 15: 11: 51 WIB | editor : Perdana

Rinem membuat keripik singkong di dapur rumahnya kemarin.

Rinem membuat keripik singkong di dapur rumahnya kemarin. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

Makanan berbahan dasar singkong ini biasanya disebut opak atau kerupuk singkong. Namun di balik lezatnya camilan ini terdapat cerita pilu dari perajinnya asal Tanon ini.

AHMAD KHAIRUDIN, Sragen

PEMBUAT emping singkong ini adalah Rinem. Usianya 56 tahun. Di samping kesibukan dia merawat sang suami Pardi, 61, yang kehilangan penglihatan setelah menjalani operasi—perempuan asal Dusun Ngledok, Desa Gading, Kecamatan Tanon ini masih tetap membuat kerupuk singkong.

Di dapur tradisional belakang rumahnya setiap usai salat Subuh, Rinem membuat kerupuk singkong untuk dijajakan. Aktivitas ini rutin dilakukan dalam 25 tahun terakhir ini. Yakni mengolah singkong yang sebelumnya dibeli lalu diolah menjadi kerupuk singkong.

Dengan menggunakan alat sederhana, seperti parutan, tungku, kendi dan sebagainya, Rinem dengan cekatan dan telaten membuat cemilan ini. Mulai dari mengupas singkong, mencuci, dan diparut secara manual.

Lantas setelah mendapatkan parutan yang halus, kemudian dicampur bumbu dapur seperti bawang putih, merica, garam, penyedap rasa dan bumbu rempah-rempah yang telah dihaluskan. Kemudian adonan dicetak dengan cetakan hanya menggunakan tutup panci kendil yang sudah di panaskan.

Dalam prosesnya adonan ditekan hingga tipis. Kemudian ditutupkan di kendil yang tengah mendidih. Sampai adonan terlihat kenyal, lalu di ambil, lantas ditata pada anyaman bambu. Tidak selesai di situ saja, adonan ini lalu dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Setelah kering dan mengeras pada sore hari adonan siap untuk digoreng. Kemudian setelah matang dikemas dalam plastik untuk siap dijajakan. Biasanya Rinem membawa kerupuk singkong ini ke Pasar Gading. 

Satu plastik kerupuk singkong  berisi lima keping ini dijual seharga Rp 2.500. ”Bisanya cuma buat opak ini. Saya tidak punya sawah hanya pekerjaan ini yang bisa saya lakukan. Mau kerja yang lain juga susah. Paling kalau musim tanam padi dan kacang di sawah,” ujarnya.

Meski demikian, profesinya dikerjakan dengan ikhlas. Meski sedikit keuntungan yang didapat, namun dia senang bisa melestarikan makanan zaman dulu ini. ”Sekarang kan sudah jarang orang bikin makanan kayak gini, ya biar tetap lestari makanan ini,” kata Rinem  sembari tersenyum.

Meski hanya memproduksi skala kecil,  namun makanan olahannya digemari banyak orang. Jika sedang bagus bahan bakunya, dia bisa memproduksi puluhan kilogram kerupuk singkong.  Pasangan suami istri yang tinggal di rumah reyot dengan dinding anyaman bambu dan beralaskan tanah ini juga berjuang melawan kebutaan. 

Pardi mengalami kebutaan sekitar 30 tahun lalu. Kedua mata terkena terkena tanah sawah. Sempat dibawa ke rumah sakit dan dioperasi namun malah jadi buta. Rinem juga berharap, usaha kecil miliknya bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat. Dia berharap komitmennya melestarikan makanan tradisional khas Sragen ini mendapat apresiasi. Salah satunya dalam bentuk bantuan alat - alat produksi.

Rinem ingin punya alat yang agak modern buat produksi ini.  Seperti alat parut singkong otomatis, alat penggorengan yang memadai  dan sebagainya. ”Kalau beli alat mesin saya tidak punya cukup uang,” ujarnya.

Sepengetahuannya, tinggal dirinya yang masih mau membuat kerupuk singkong. Anak-anaknya memilih pekerjaan lain. Kondisi ekonominya pun tidak lebih baik. (*/bun)

    

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia