Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Bullying Picu Gangguan Jiwa Anak

Mayoritas Terjadi di Lingkungan Sekolah

15 Desember 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

BERI RASA AMAN: Murid kelas IV hingga XI rawan mengalami bullying. Orang tua dan masyarakat diimbau lebih peduli. 

BERI RASA AMAN: Murid kelas IV hingga XI rawan mengalami bullying. Orang tua dan masyarakat diimbau lebih peduli.  (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Masih banyak yang menganggap bullying alias perundungan di kalangan anak-anak hanya sebatas bercanda dan mendapat permakluman. Padahal, dampaknya mengerikan.

Salah seorang pengurus Forum Anak Surakarta (FAS) William Wicaksono mengungkapkan, sekitar 90 persen pelajar kelas IV hingga XI di tanah air pernah mengalami bullying. Dampaknya, 10 persen korban terpaksa pindah sekolah.

"Data menunjukkan 160 ribu pelajar di Indonesia membolos tiap hari untuk menghindari bullying. Mereka merasa ketakutan, dan yang paling parah bisa memicu gangguan jiwa," terangnya, Sabtu (14/12).

Selama ini, imbuh remaja 16 tahun itu, masyarakat masih menganggap bullying hanya sebagai bentuk bercanda. Padahal, “bercanda” secara berlebihan itu cenderung menyakiti fisik maupun psikis. 

"Parahnya, bullying ini masih dimaklumi oleh korban. Korban menyimpan perasaan luka secara pribadi," tandasnya.

Imbasnya, perkembangan psikis korban dapat mengalami kemunduran. Menjadi tidak percaya diri hingga rendah diri. "Saya juga pernah mengalami sendiri. Jika tidak dilawan atau dicarikan solusi, akan berdampak negatif untuk diri sendiri. Makanya, saya harap korban bullying harus berani berbicara soal fenomena bullying yang mereka terima. Paling tidak itu bisa mengurangi beban," bebernya.

Menurut William, pelaku bullying tidak sadar bahwa perilakunya merugikan orang lain. Biasanya pelaku tidak memiliki sikap dewasa atas perilakunya. Solusinya, harus dilakukan konseling antara korban dan pelaku.

Direktur Yayasan Sahabat Kapas Surakarta Dian Sasmita menilai, penanganan bullying di Indonesia belum ada perubahan ke arah lebih baik. Pendekatan untuk meyelesaikan masalah sebatas memberikan hukuman pada pelaku. 

"Ini pendekatan penyelesaian yang kurang tepat. Mengingat perilaku bullying dilatarbelakangi berbagai hal. Misalnya kurang perhatian orang tua, mendapat tindak kekerasan baik di rumah atau di lingkungan tempat tinggalnya," ujarnya.

Dian tak membantah fenomena bullying paling banyak terjadi di lingkungan sekolah. Namun, sejauh ini, pihaknya belum menemui sekolah yang secara progresif menyediakan ruang konseling bagi korban maupun pelaku bullying. 

"Kenapa (bullying) belum cukup masif ditangani? Karena pola pikir masyarakat masih mewajarkan peristiwa itu. Dari sejumlah responden yang saya tanya pernah tidak menjadi korban bullying? Mayoritas menjawab tidak pernah,” paparnya. 

Tapi, lanjut Dian, ketika pertanyaan diubah pernah tidak mendapat candaan yang menyakitkan hati atau fisik? Mereka menjawab pernah. “Itu artinya bullying yang berawal dari guyonan meyakitkan hati terlanjur dianggap wajar, sehingga pola masyarakat menjadi permisif," tegas dia.

Permakluman terhadap perilaku bullying harus segera diubah. Semua elemen masyarakat lebih jeli. “Cara menghentikan bully itu tidak dekan menghukum pelaku. Namun memperbaiki perilakunya. Lalu memulihkan korban. Ini bukan hanya masalah yang harus dituntaskan pemerintah dan sekolah. Tapi juga para orang tua dan kita sebagai kawan korban atau pelaku,” pungkasnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia