Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features
Terdesak Kebutuhan, Halalkan segala Cara

Bikin KTP Palsu Cukup Sehari

15 Desember 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Bikin KTP Palsu Cukup Sehari

Belum lama ini, Polresta Surakarta membongkar modus pembuatan KTP elektronik (e-KTP) palsu dengan tersangka Rian Riansyah, 35, tenaga kontrak dengan perjanjian kerja (TKPK) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Surakarta. Penelusuran Jawa Pos Radar Solo, peminat e-KTP palsu cukup banyak. 

DE, 18, di antaranya. Warga Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan ini membuat identitas palsu untuk menuakan umurnya agar diterima bekerja. Dia membuat KTP palsu ketika umurnya masih 15 tahun. 

Kala itu, setelah lulus SMP, orang tua DE tidak mampu membiayai sekolah ke jenjang lebih tinggi. Jalan satu-satunya agar DE dapat menyambung hidup adalah dengan mencari pekerjaan.  

Dia melamar ke sejumlah perusahaan dan pabrik tapi tidak pernah diterima karena belum mengantongi KTP. “Alasan perusahaan, mereka takut ditegur dinas karena mempekerjakan anak di bawah umur,” ucapnya.

Padahal DE sangat membutuhkan pekerjaan agar tidak membebani orang tuanya yang masih menyekolahkan adik-adiknya. Saat galau itu, tetangganya mengarahkan DE membuat e-KTP palsu. “Saya dikenalkan sama seseorang. Katanya bisa buat KTP tanpa harus ikut prosedur, tapi harus bayar,” ujar dia.

Setelah bertemu oknum tersebut, DE meminta keterangan umurnya pada e-KTP dituakan menjadi 19 tahun. Setelah sepakat, dia diminta membayar Rp 700 ribu. “Uang mukanya Rp 350 ribu. Sisanya dilunasi setelah e-KTP jadi,” terangnya.

DE diminta mengumpulkan beberapa persyaratan. Antara lain pas foto 3x4, menuliskan nama lengkap. Proses pembuatan e-KTP palsu hanya butuh lima hari. Bila ingin sehari jadi, cukup tambah pelicin Rp 200 ribu.

Lima hari berselang, DE kembali bertemu oknum yang sama untuk menerima KTP palsu. Kini, tahun lahir yang seharusnya tertulis 2002, disulap menjadi 1998. Bermodal KTP palsu itu, DE diterima kerja.

“Awalnya takut ketahuan kalau KTP saya palsu. Teryata tidak, aman. Saya memasukkan lamaran di lima perusahaan. Berhasil lolos administrasi di tiga perusahaan. Saya pilih satu dan jadi tempat saya bekerja saat ini,” bebernya.

Pengguna KTP palsu lainnya adalah Sa, 35, warga Kecamatan Colomadu, Karanganyar. Identitas palsu tdigunakan untuk berutang. Sebab, nomor induk kependudukan (NIK) KTP aslinya sudah masuk dalam Bank Indonesia (BI) checking karena kerap mangkir bayar tagihan utang bank. 

Cara bertemu si pemalsu KTP serupa dengan DE. “Baru awal tahun ini (bikin KTP palsu). Saya kenal dari teman. Bayar sekitar Rp Rp 1 Juta. Yang beda (keterangan) alamat rumah dan NIK. Saya dibuatkan alamat di Solo,” ungkapnya.

KTP abal-abal itu digunakan sebagai syarat mengajukan utang di bank pelat merah. Namun, ketatnya pemeriksaan pihak bank mampu mendeteksi bahwa KTP Sa palsu.

Ketika dicek petugas, data NIK Sa tidak masuk dalam sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK). Ujung-ujungnya KTP tersebut disita untuk diserahkan ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Karanganyar. “Saya kapok setelah itu,” katanya singkat.

Berbeda dengan DE dan Sa, Danang Supriyanto, 30, tak sadar bahwa e-KTP dan KK yang dipegangnya ternyata palsu. Berawal dari pertemuannya dengan Rian Riansyah, 35, TKPK Dispendukcapil Surakarta untuk mengurus perpindahan data kependudukan.

Pria asal Salatiga itu pindah alamat Solo karena ditugaskan kantornya cukup lama di Kota Bengawan. Dengan menjadi warga Solo, dia berharap urusan pekerjaan bisa lebih mudah. Danang mendapat informasi yang tidak jelas kebenarannya tentang sulitnya pindah KTP Solo. 

Danang lalu bertemu Rian dan ditawari pengurusan adminsitrasi lewat jalur singkat, tapi harus membayar. “Saya diminta Rp 1,5 juta. Katanya dapat KK sama KTP baru,” jelasnya.

Anehnya, lanjut Danang, dirinya tidak perlu mengumpulkan berkas apa pun. Hanya diminta menuliskan identitas keluarga yang akan dimasukkan ke dalam KK baru, serta siapa saja yang akan dibuatkan KTP . “Saya kira karena jalur singkat jadi tidak perlu repot,” kata dia.

Danang baru menyadari KTP dan KK palsu setelah turut diperiksa kepolisian. “Setelah (dokumen kependudukan) disita, saya langsung buat secara jalur resmi. Ternyata cepat. Untungnya berkas dari Salatiga masih saya simpan,” urainya. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia