Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Komunitas Hidroponik Sukoharjo, Berawal Dari Hobi, Jadi Ladang Bisnis

15 Desember 2019, 14: 40: 59 WIB | editor : Perdana

Komunitas Hidroponik Sukoharjo, Berawal Dari Hobi, Jadi Ladang Bisnis

Bercocok tanam dengan sistem hidroponik semakin digemari banyak orang. Tak butuh lahan luas, hanya mengandalkan pipa peralon maupun styrofoam untuk bisa menghasilkan sayuran segar. Komunitas Komunitas Hidroponik Solo-Sukoharjo (KHSS) berbagi ceritanya.

HIDROPONIK merupakan teknik menanam dengan memberdayakan air dan tanpa meggunakan tanah. Ratusan pehobi hidroponik di Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo terus eksis hingga merambah ke lahan bisnis. Mereka kemudian membuat suatu wadah Komunitas Hidroponik Sukoharjo (KHS).

Mereka rutin menggelar kopdar untuk bertukar pengalaman. Bahkan sering dihairi pehobi hidroponik dari luar kota seperti Blora, Cepu, Depok, Bekasi, Tangerang, dan Magetan.

”Tujuan didirikannya KHS untuk mengembangkan hidroponik daerah Sukoharjo dan sekitarnya. Kami sesama pehobi hidroponik saling bertukar ilmu dan pengalaman, tapi ternyata sudah merambah ke bisnis,” beber Ketua Komunitas Hidroponik Solo (KHS), Junaedi kepada Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.

Jenis tanamannya mulai dari Seledri, Parkcoy, Sawi, Kangkung, Kailan, Selada. Ada pula buah Tomat, Paprika, Stroberi hingga Semangka. Mereka tak sungkan berbagi ilmu dengan sesama anggota yang masih pemula.

”Untuk tanaman hidroponik masa panennya bisa diatur sendiri. Bisa sebulan sekali, seminggu sekali ataupun dibuat siklus,” tandasnya.

Sejak berdiri 17 Agustus 2014, kini KHS beranggotakan 200 anggota. Sekitar 70 anggota aktif mengikuti kegiatan. Sementara 10 anggota lainnya sudah mampu mengembangkan ke lahan bisnis. Kegiatan rutinnya mulai dari pelatihan, kopdar, kunjungan green house, hingga pameran.

”Untuk kunjungan itu sebagai refreshing. Kalau sudah punya green house pastinya komplet,” imbuh Junaedi.

Sementara kegiatan pameran biasanya dilakukan untuk memperkenalkan hidroponik kepada masyarakat.

”Dulu pernah di CFD Slamet Riyadi Solo. CFD Sukoharjo. Lalu event 17 an, terkadang di pasar-pasar,” imbuh Wahyu, anggota KHS.

Sistem tanam KHS tidak hanya memanfaatkan pipa peralon, namun juga bisa menggunakan styrofoam bekas tempat buah yang sudah dilubangi. Tentunya lebih hemat dibanding menggunakan pipa.

”Kalau pakai peralon susun yang dipakai sistem dinamis artinya airnya itu mengalir dan menggunakan listrik. Tapi ada juga yang statis, airnya ini diam tapi biasanya pakainya styrofoam,” terangnya.

Menurutnya, tanaman hidroponik memiliki keunggulan seperti unsur nutrisi lebih tinggi, higienis, lebih cepat panen serta tanpa mengandung pestisida. Sehingga proses pemasarannya ke pelanggan khusus. Mulai dari usaha katering maupun supermarket. (mg9/mg11/mg12/adi)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia