Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Artanto, Penggagas Warung Bakso Sistem Prasmanan

Sering Kena Tipu, Uji Kejujuran Pembeli

15 Desember 2019, 12: 35: 59 WIB | editor : Perdana

CARA BEDA: Artanto di warung bakso kejujuran yang baru buka dua pekan lalu.

CARA BEDA: Artanto di warung bakso kejujuran yang baru buka dua pekan lalu. (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

Berulang kali mencoba berwirausaha, berkali-kali pula Artanto, 48, merugi karena kena tipu. Termasuk oleh pegawainya. Tapi, dia tetap nekat membuka usaha.

A. Christian,Solo.

JARUM sudah menujukkan pukul 11.30. Artanto baru setengah jam membuka warung bakso di Kahuripan No. 81, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari. Dua anak karyawannya sibuk memasukkan bakso, tahu, serta pangsit ke dalam panci berisi kuah mendidih.

Di depan warung yang tertata rapi dan bersih, sudah mengantre para pelanggan. Begitu menu tertatap rapi di gerobak, jujukan kali pertama adalah mengambil mi dan bihun dimasukkan ke dalam mangkok. 

Ya, di warung ini pembeli njupuk dewe menu yang diinginkan. Rampung menyantap semangkuk bakso, pelanggan menuju meja kasir. Di tempat itu sudah ada Artanto.

Tidak perlu repot menghitung, pelanggan langsung membayar sesuai harga menu yang dapat dilihat di MMT. Untuk pangsit dan lainnya dibanderol Rp 1.000 per buah, bakso Rp 2.000 per biji, dan minuman dipukul rata Rp. 3.000 per gelas. Jika ada sisa pembayaran, pembeli tinggal menginfokan ke Artanto. 

Rampung jam makan siang, puluhan pembeli yang memenuhi warung berukuran sekitar 50 meter persegi itu berangsur berkurang. Kesempatan tersebut digunakan Jawa Pos Radar Solo ngobrol dengan pria kelahiran Solo 28 November 1971. 

Ternyata, Artanto baru membuka warung bakso dua pekan lalu. Dia tidak sendiri. Dibantu Widodo, temannya waktu kuliah. Dua sekawan itu mengonsep warung baksonya prasmanan, yakni pembeli mengambil menu baru membayar ke kasir.

“Kalau seperti itu, sama saja dengan rumah makan biasa. Bagaimana kalau pembeli ambil menu sendiri, makan, lalu baru bayar. Saya ingin mengecek apakah masih ada kejujuran,” kata bapak tiga anak tersebut.

Cara itu dipilih Artanto sebab sejak buka usaha pada 1998 selalu merugi karena ditipu. Awalnya, dia menggeluti bisnis advertising. Saat pesanan mulai ramai, usahanya malah gulung tikar karena rekan kerja malas menyelesaikan pesanan yang menumpuk.

Usai gulung tikar, Artanto mendirikan CV dan menjadi rekanan perusahaan telekomunikasi pelat merah. Sayangnya, CV tersebut ditinggalkan karena harus pulang ke Malang.

“Waktu itu bapak istri saya sakit. Kami sekeluarga pulang ke Malang supaya bisa menemani bapak. CV saya titipkan ke teman. Tapi sampai sekarang saya tidak pernah mendapatkan hasillnya,” kenang dia.

Pernah Artanto dan istrinya merintis usaha katering. Tapi lagi-lagi merugi karena uang setoran dibawa kabur pegawainya. “Ya kalau dihitung-hitung miliaran (rupiah) bablas. Belum kalau kalau ada utang terus tidak membayar. Tapi ya sudah mau diapakan lagi. Makanya, kali ini saya mencoba mengonsep rumah makan berdasar kejujuran,” bebernya.

Ternyata, nama warung bakso kejujuran membawa hoki. Pembeli yang penasaran dengan nama itu mampir mencicipi bakso racikan Artanto. Merasa cocok di lidah, mereka pun sering kembali dan akhirnya jadi pelanggan.

Konsep warung kejujuran juga terbukti ampuh. Selama dua pekan berjualan, belum didapati pelanggan curang. “Malah ada yang sudah pergi, balik lagi karena ingat ada menu yang belum dibayar. Tidak sekali dua kali. Setiap hari pasti ada yang seperti itu. Berarti benar, kejujuran itu masih ada di masyarakat,” ujar dia.

Soal omzet, Artanto menyebut sekitar Rp 2 juta per hari. Buka pukul 11.00 hingga 21.00, minimal habis 100 mangkok bakso. “Kalau berjualan tidak mengambil keuntungan itu bohong. Saya tetap mengambil untung dari berjualan bakso kejujuran. Hanya saja, lebih dari setengah keuntungan saya salurkan untuk anak-anak panti asuhan,” katanya.

Ya, Artanto juga mengelola komunitas yang bergerak di bidang sosial. Kegiatannya mengajak anak panti asuhan di kawasan eks Karesidenan Surakarta berwisata.

“Melihat mereka tersenyum, hati saya sudah gembira sekali. Karena sedikit rezeki dari kita, sangat berarti bagi mereka,” terangnya.

Untuk sementara, Artato mengurus sendiri manajemen warungnya. Mulai dari belanja hingga menghitung keuntungan setiap hari. Dua pegawainya bertugas membersihkan warung dan membuat minuman, sedangkan Widodo bertanggung jawab menyiapkan menu bakso.

Awal berdagang dengan Artanto, Widodo memprediksi dalam sehari hanya habis 15 mangkok. Tapi faktanya bisa tembus 60 mangkok. “Sempat ada yang menawari franchise, tapi kami tolak,” tuturnya. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia