Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Melihat Mahasiswa asal Hongaria Belajar Pawukon

16 Desember 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

MENARIK: Sooki-Toth Kristof dan Fruzsina Bocker melihat koleksi Museum Radya Pustaka.

MENARIK: Sooki-Toth Kristof dan Fruzsina Bocker melihat koleksi Museum Radya Pustaka. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Sooki-Toth Kristof, 23, dan Fruzsina Bocker, 20, tampak betah mendengar penjelasan soal Pawukon di Museum Radya Pustaka. Mereka penasaran tentang konsep horoskop Jawa itu.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

DI ruangan paling ujung Museum Radya Pustaka, si empu pawukon, Totok Yasmiran tampak betah memberi penjelasan di depan puluhan mahasiswa. Sebagian duduk lesehan, sebagian lainnya duduk di kursi bagian belakang. Sesi tanya jawab pun tak kalah menariknya, saking asyiknya, obrolan yang awalnya agak canggung itu mulai cair dengan penggunaan berbagai idiom Jawa dalam penyampaiannya. 

Saat itulah dua mahasiswa pertukaran pelajar asal Hongaria mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka penasaran dengan berbagai gambar yang dipajang di salah satu sudut dinding museum setempat. “Saya kira gambarnya sangat unik, mirip seperti wayang,” ucap Sooki-Toth Kristof, mahasiswa asal Hongaria.

Dengan terbata-bata, pria kelahiran 9 Juni 1996 itu mencoba memahami berbagai keterangan yang ditulis dalam bahasa Jawa itu. Tentu saja, dia merasa sulit memahami arti kalimat itu. Namun aksi manggut-manggutnya itu seakan menggambarkan bahwa dia menikmati momen tersebut. 

“Awalnya saya mengira di sini akan memelajari seputar aksara Jawa saja. Tapi ternyata ada berbagai hal baru yang cukup menarik untuk diamati. Salah satunya pawukon ini,” kata Kristof.

Salah satu hal yang paling menarik dari pawukon, sambung dia, adalah berbagai simbol dan gambar yang ada di puluhan wuku tersebut. Khususnya dalam hal visualnya, gambar-gambar di pawukon ini ternyata tak jauh beda dengan pewayangan Jawa yang juga dia pelajari di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Namun tetap ada perbedaan yang cukup detail dari bentuk-bentuk simbol itu sendiri. “Di sini belajar banyak yang belum diketahui banyak orang,” kata dia 

Kendati bingung dengan berbagai makna dan simbol, Kristof tetap senang dengan aktivitasnya pagi itu. Pasalnya, dia merasa akrab dengan sejumlah simbol seperti gambar hewan dan tanaman yang juga kerao dipakai di Hongaria. 

“Beberapa simbol hewan atau tanaman yang di pakai juga ada yang dipakai di kebudayaan asli negara saya. Hanya saja bedanya di Jawa ada simbol berbagai burung yang melambangkan berbagai arti juga,” bebernya.

Meski memahami kultur dan kebudayaan Jawa cukup sulit lantaran memiliki banyak simbol dan arti di dalamnya, Kristof tetap senang dengan kegiatan tersebut. Oleh sebab itu, dia ikut program pertukaran pelajar yang sudah dilakoni sejak beberapa bulan terakhir. Saat ini, dia terdaftar sebagai mahasiswa program darmasiswa di Jurusan Karawitan ISI Surakarta. 

“Di sini saya juga belajar karawitan. Musik Jawa itu unik jika dibandingkan dengan instrumen modern. Kenunikannya jelas karena dimainkan banyak orang untuk bisa menciptakan satu komposisi musik yang enak di dengar. Kalau kesulitannya tentu ada, seperti saat pertama kali belajar pawukon ini," kata Kristof.

Sama seperti Kristof, Fruzsina Bocker juga terkagum-kagum dengan banyaknya pembeda yang ada di sistem horoskop Jawa. Gadis kelahiran 3 September 1999 ini justru sangat tertarik karena horoskop yang dia pelajari di Radya Pustaka ini jauh berbeda dari horoskop yang dia pahami selama ini. 

“Di pawukon ada puluhan kategori, sementara horoskop umum hanya ada dua belas saja. Tentu arti dan simbol-simbol yang dipakai sangat berbeda, jadi menarik sekali,” kata dia.

Meski sempat kesulitan memahami penjelasan si ahli pawukon, Fruzsina akhirnya sedikit paham setelah kalimat bahasa Jawa itu akhirnya dialihbahasakan ke bahasa Inggris oleh penerjemah yang mendampingi. Dia sangat berharap bisa kembali belajar pawukon di lain waktu, mengingat masa belajarnya di ISI Surakarta masih panjang hingga Agustus tahun depan. 

“Saya belajar karawitan di ISI sampai Agustus 2020 mendatang. Jadi masih banyak waktu untuk main ke museum ini,” ucap Fruzsina. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia